Kamis, 13 Agustus 2009

14 HARI YANG MENEGANGKAN

Matahari pagi mulai menyinari bumi Kinanah. Sinarnya hangat, sehangat celoteh anak-anak Mesir yang keluar dari rumahnya untuk berangkat ke sekolah. Di rumah Azzam sua sana tegang belum hilang. Fadhil belum juga sadar sampai jam enam pagi.

"Bagaimana ini Kang?" tanya Nanang cemas.

Azzam berpikir sebentar. Ia memang yang harus memu tuskan. Sebab ia yang paling tua di rumah itu.

"Kita bawa ke rumah sakit . Kau cari taksi sana sama Ali. Fadhil biar aku yang tunggu!" kata Azzam.

"Baik Kang."

Nanang dan Ali lalu keluar untuk mencari taksi. Lima belas menit kemudian mereka kembali dengan membawa taksi. Pagi itu juga Fadhil mereka bawa ke Mustasyfa 61 61 Rumah Sakit Rab'ah El Adawea. Dokter yang memeriksa mengatakan, Fadhil harus dirawat di rumah sakit.

Pagi itu menjadi pagi yang sangat sibuk bagi Azzam. Ia teringat bahwa ia harus menyelesaikan pekerjaan pekerjaannya. Rendaman kedelai yang harus ia olah jadi tempe. Tempetempe yang sudah jadi yang harus ia distribusikan. Kemudian acara di Sekolah Indonesia Cairo (SIC) yang memesan bakso padanya. Jam sebelas ia dan baksonya harus siap di SIC. Jika tidak ia akan dimarahi banyak orang.

Ia merasa perlu mendelegasikan tugas dan pekerjaan. Yang bisa dilakukan orang lain biar dilakukan orang lain. Sementara ia akan menangani yang hanya bisa ia tangani. Ia bergerak cepat. Ia meminta Ali menjaga Fadhil. Nanang ia minta menghubungi KMA, Keluarga Mahasiswa Aceh, juga adik perempuannya yang tinggal di Makram Abied. Sementara ia sendiri harus segera kembali ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Aku kembali ke sini bakda Zuhur, insya Allah . Habis dari KMA kau langsung balik lagi ke sini ya Nang?" kata Azzam.

Nanang mengangguk.

"Nasir bagaimana Kang?" Tanya Nanang.

"Biar aku yang mengurus. Baik, aku tinggal dulu." Jawab Azzam.

Sampai di rumah Azzam langsung mengontak Anam, Yayan dan Rio. Tiga orang yang selama ini ikut mendistribusikan tempe-tempenya. Agar nyaman Azzam membagi wilayah operasi mereka. Mereka sebenarnya tinggal enak, karena hanya mengantar ke rumah-rumah para pelanggan yang telah dirintis Azzam. Namun mereka juga diberi kebebasan mencari pelanggan baru di wilayahnya masingmasing. Untuk Anam, Azzam me-mercayakan beroperasi di Abdur Rasul, Rab'ah, Haidar Tuni. Sedangkan Yayan, beroperasi di Masakin Ustman, Hay Zuhur dan Hay Sabe'. Adapun Rio beroperasi di Katamea.

Tiga mahasiswa itu langsung datang. Azzam meminta mereka segera mendistribusikan tempe-tempe yang telah jadi ke wilayah masing-masing, kecuali Rio.

"Sementara Rio, kau membantuku membuat tempe saja." Ujar Azzam pada Rio. Rio pun mengangguk setuju. Azzam langsung memberi petunjuk pada Rio. Pertama ia minta Rio merebus kacang kedelai yang direndam sampai matang.

"Tanda kedelainya sudah matang, jika uapnya sudah berbau kedelai," jelas Azzam pada Rio. Jika sudah ma -tang tiriskan sampai dingin. Baru diberi raginya," lanjut Azzam.

"Raginya seberapa Kang?" tanya Rio

"Jangan banyak-banyak.Ini ragi keras. Segini saja," jawab Azzam sambil memberi contoh takaran ragi dengan mengambil ragi dengan tangannya.

"Baru setelah itu dibungkus dengan plastik itu. Ukurannya seperti biasa," lanjut Azzam. Untuk membuat tempe Azzam hanya bisa percaya pada Rio. Anak dari Tuban itulah yang paling sering membantunya membungkus tempe. Dan hasil bungkusannya rajin dan bagus.

Setelah semuanya ia rasa beres, ia menyiapkan segala kebutuhannya membuat bakso. Semua barang dan alat yang ia butuhkan ia masukkan ke dalam panci besar. Ia lalu memanggil taksi. Dengan taksi ia membawa panci besar itu menuju SIC yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Dalam perja lanan, ingatannya tertuju pada Fadhil yang saat ia tinggalkan masih pingsan. Ia ber-harap tidak terjadi apa -apa dengannya.

Pukul delapan Furqan baru terbangun. Ia sangat kaget. Bagaimana bisa terjadi? Seharusnya ia bangun jam em -pat. Bagaimana bisa kebablasan sampai pukul delapan. Ia merasa ada yang sangat menyiksanya. Ia tidak hanya ke-hilangan shalat Tahajud. Namun ia juga kehilangan sha -lat Subuhnya.

Ia beristighfar berulang kali. Belum juga kekagetannya reda. Ia kaget dengan keadaannya.

"Laa haula wa la quwwata illa billah! Inna lillah!" Ia berkata setengah teriak. Ia kaget bagai tersengat listrik. Bagai mana mungkin ia bisa tidur tanpa busana. Tidur hanya bertutupkan selimut saja. Padahal ia tidur tidak dalam keadaan seperti itu. Ia tidur dengan kaos panjang dan celana panjang. Ia melihat kaos panjang dan celana panjangnya tergeletak di lantai. Ia bingung dengan diriya sendiri. Apa saat tidur dia mengigau dan melepas pakaiannya tanpa sadar. Ia merasa tidak yakin. Sepanjang hidupnya baru kali ini ia bangun tidur dengan kondisi yang menurutnya sangat memalukan.

Ia langsung bangkit, mencuci muka dan mengambil air wudhu. Ia harus segera meng-qadha shalat Subuh. Pikirannya benar-benar kacau. Hatinya tidak tenang. Ia shalat dengan tidak bisa khusyuk sama sekali. Perasaan berdosa karena sha lat tidak tepat pada waktunya terus menggelayut di pikiran nya. Pagi yang bagi sebagian besar penduduk Kota Cairo sangat cerah itur baginya terasa sangat suram.

Kekagetannya tidak berhenti sampai di situ. Selesai sha lat ia bermaksud menghidupkan laptopnya dan untuk mendengarkan nasyid Raihan dengan winamp, namun ia tersentak dengan adanya sebuah foto di atas laptopnya yang tergeletak di atas meja. Poto itu adalah foto dirinya dengan seorang perempuan berambut pirang dalam kondisi sangat memalu kan. Foto yang membuatnya gemetar dan didera kecemasan luar biasa, juga rasa geram yang menyala. Sesaat ia bingung harus berbuat apa. Ia sendiri tidak tahu perempuan berambut pirang itu siapa? Bagai -mana itu semua bisa terjadi? Dan dirinya? Apa yang se-benarnya telah dilakukan perempuan itu pada dirinya? Dan apa yang telah dilakukannya dengan perempuan itu?

Serta merta ia disergap rasa sedih yang menusuk nusuk jiwa. Airmatanya meleleh. Ia merasa telah ternoda. Harga diri dan kehormatannya telah hancur. Ia merasa tidak memiliki apa -apa. Ia merasa menjadi manusia paling ter-puruk dan terhina di dunia. Sesaat lamanya ia bingung. Ia didera rasa cemas dan ketakutan yang begitu besar sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa? Foto itu ia rasakan bagaikan pedang yang siap menggorok lehernya. Dunia terasa hitam -pekat baginya.

Ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia adalah seorang lelaki. Ya. Seorang lelaki sejati tepatnya. Seorang yang berani menghadapi masa -lah yang ada di hadapannya. Ia adalah Mantan Ketua PPMI yang disegani. Ia harus bisa menguasai diri. Harus bisa bertindak tepat, cepat dengan akal sehat. Ia amati foto itu sekali lagi. Ia balik. Ia menangkap sesuatu. Sebuah pesan singkat:

Please read "myoptions.doc" in ur notebook!

Furqan langsung menyalakan laptopnya dan mencari file yang beriudul myoptions.doc. Langsung ketemu. Ia buka. Sebuah pesan dengan bahasa Arab muncul di layar.

Tuan Furqan, begitu bangun tidur Anda pasti kaget dengan keadaanmu dan dengan apa yang kau temukan. Saya sudah tahu siapa Anda. Tak usah berbelit-belit. Kita langsung ke inti masalah. Ini murni masalah bisnis. Bisnis kecil-kecilan antara Tuan dan saya. Saya sudah punya foto-foto "menarik" dengan Tuan. Jika Tuan ingin foto foto ini tidak jadi konsumsi umum maka sebaiknya Tuan melakukan dua hal ini:

Pertama, jangan lapor ke polisi.

Kedua, silakan transfer uang sebesar 200.000 USD. ke nomor rekening ini: 68978967605323 Banca Com -merciale Italiana Roma (jangan lupa dicatat, sebab begitu file ini Tuan tutup, file ini akan langsung musnah). Saya beri tenggang waktu 2 x 24 jam untuk mentransfer.

Ketiga, setelah uang masuk rekening saya, maka saya akan kirim seluruh film negatif dari foto-foto tersebut dan saya jamin tak ada yang saya tahan.

Terima kasih atas kerjasamanya.

Miss Italiana .

Furqan tertegun di depan layar laptopnya. Ia diintimdasi. Ia mau diperas. Ia tidak percaya ini akan terjadi padanya. Ini seperti di film -film yang pernah ia tonton. Siapakah Miss Italiana itu? Tiba -tiba ia teringat Sara. Apakah ini semua ada hubungannya dengan undangan Sara? Juga kekecewaan Sara? Siapakah Sara sebenarnya? Benarkah ia putri Prof. Sa'duddin seperti yang diakuinya? Akal sehatnya mulai berjalan. Namun ia tetap dicekam kece-masan dan ketakutan. Ia seperti diseret masuk ke dalam dunia yang kelam.


0 komentar:

Posting Komentar

REVAN NINTANG BLOG. Diberdayakan oleh Blogger.