Minggu, 16 Agustus 2009

11 Ujian Tak Terduga

Azzam meminjam sepeda motor butut milik Husna. la harus shalat Ashar di Wangen. la telah berjanji pada Kiai Lutfi bahwa dirinya akan ikut pengajian Al Hikam. la tidak mau mengingkari janji yang telah terlanjur ia ucapkan. Meskipun saat itu lelah dari tubuhnya belum benar-benar punah.

Ia pacu sepeda motor tua itu sekuat-kuatnya. Tapi lajunya maksimal tetap enam puluh kilometer perjam. Menjelang sampai Polanharjo ia melihat sawah yang terhampar. Sejenak ia hentikan motornya. Sudah lama ia tidak menikmati pemandangan sawah seperti itu.

Di kejauhan ia melihat orang-orang sedang bekerja. Mereka mencangkul bergelut dengan lumpur. Dari jauh mereka kelihatan seumpama kayu hidup, tak berbaju.

Terik matahari memanggang mereka. Tubuh mereka hitam dan berkilauan karena keringat. Keringat mereka merembes dari setiap pori-pori lalu jatuh dan jadi pupuk penyubur padi yang kelak mereka tanam.

Mereka para pahlawan, karena keringat merekalah jutaan orang bisa makan." Gumam Azzam.

Setelah puas menikmati pemandangan yang meng gugah itu ia melanjutkan perjalanan. Lima belas menit sebelum ashar Azzam sampai di masjid pesantren. Masyarakat yang hendak mengikuti pengajian Al Hikam telah banyak berdatangan. Azzam melihat di antara yang hadir ada Pak Mahbub, imam masjid di kampungnya. Pak Mahbub tampak sedang asyik berbincang dengan seorang kakek berbaju hitam. Azzam tidak ingin mengganggu keasyikan mereka.

Ia lalu melihat Kiai Lutfi berjalan dari rumah ke masjid. Kiai itu berbincang dengan seorang santri. Lalu mengitarkan pandangannya ke arah jamaah yang ada di dalam masjid. Azzam terus memperhatikan gerak gerik Kiai itu. Dan saat kedua matanya dan kedua mata Kiai Lutfi bertemu, ulama kharismatik itu tersenyum padanya. Ia kaget ketika Kiai Lutfi berjalan ke arahnya.

"Kau memenuhi janjimu Zam?"

Janji memang harus dipenuhi Pak Kiai."

Kebetulan kamu datang. Aku mau minta tolong, tapi maaf mendadak."

Apa itu Pak Kiai."

Sepuluh menit yang lalu aku dapat kabar Kiai Rosyad Teras Boyolali wafat. Dia kakak kelasku di Sarang. Aku harus ke sana. Sebab mau dikubur bakda ashar ini juga.

Lha ini kok kebetulan Si Hamid yang biasa jadi badal sedang di Jogja. Kasihan kalau pengajian diliburkan. Aku minta kamu yang mengantikan ya." Mendengar kalimat terakhir Kiai Lutfi Azzam bagai disambar petir. Ia sama sekali tidak siap dan tidak menduga hal ini akan menimpanya. Seketika keringat dingin keluar dari pori-porinya.

Menggantikan Pak Kiai menjelaskan isi Al Hikam!?"

Tanya Azzam.

"Iya."

Aduh Pak Kiai saya tidak bisa. Sungguh!"

Kamu jangan terlalu merendah. Alumni Al Azhar pasti bisa."

Tapi saya datang untuk belajar Pak Kiai."

Ini juga belajar."

Saya tidak bawa kitabnya Pak Kiai."

Pakai kitabku."

Sungguh Pak Kiai, jangan saya!"

Tak ada yang lain. Kalau kamu tidak mau namanya menyembunyikan ilmu."

Jujur Pak Kiai, saya tidak siap."

Sudah, kamu jangan mbulet-mbulet. Ayo ikut aku mengambil kitab. Aku jelaskan sampai di mana. Ayo Nak!" Dengan hati bergetar Azzam bangkit mengikuti Kiai Lutfi. Saat berpapasan dengan beberapa santri, tampak para santri memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. la tidak memakai sarung lazimnya para santri. Tapi ia pakai celana. Untungnya ia memakai baju panjang dan kopiah putih. Jadi masih tidak terlalu menarik perhatian. Kiai Lutfi memintanya duduk di kursi yang ada di beranda. Kiai Lutfi lalu masuk untuk mengambil kitabnya. Di ruang tengah Kiai Lutfi bertemu Anna.

"Jadi ke Boyolali Bah?"

Iya."

Yang mengajar ngaji Al Hikam siapa?"

Tadi rencananya Si Hamid seperti biasa. Tapi ia ternyata pergi ke Jogja. Tapi alhamdulillah ada pengganti lain yang semoga lebih baik."

Siapa Bah?"

Azzam."

Azzam siapa?"

Siapa lagi kalau bukan temanmu itu. Yang ngantar kitab ke sini"

"Dia? Dia ada di sini?"

"Iya mau ikut pengajian. Untung Abah lihat, jadi kupaksa saja dia."

Abah ini, itu namanya zalim Bah! Kasihan dia, kalau tidak siap bagaimana?"

Abah tidak zalim insya Allah. Ini akan jadi pelajaran penting bagi dia insya Allah. Dia akan sadar kalau alumni Timur Tengah itu harus siap mengabdi pada ummat kapan saja. Harus selalu siap."

Terserah Abah lah."

Kiai Lutfi mengambil kitab Al Hikamnya. Lalu memberi tahu Azzam di halaman berapa Azzam harus membacakan. Kitab itu sudah ada di tangan Azzam.

Pemuda kurus itu menerima dengan dada panas dingin.

la tidak tahu apa nanti yang akan ia sampaikan pada sekitar tujuh ratus orang yang sore itu telah datang untuk mengambil cahaya dari Al Hikam.

"Tenang nanti begitu selesai shalat ashar aku akan memberi sedikit pengantar memperkenalkan kamu pada jamaah. Kamu langsung naik mimbar menguraikan Al Hikam." Kata Kiai Lutfi. Kaki Azzam terasa begitu berat untuk melangkah. Baginya ini adalah ujian yang lebih menegangkan dari ujian di Al Azhar.

Azan ashar dikumandangkan. Jantung Azzam berdegup kencang. Ia menenangkan diri dengan me ngambil air wudhu meskipun ia masih punya wudhu.

Azzam shalat sunnah qabliyah. Dalam sujud Azzam memohon pertolongan kepada Allah. Selesai shalat sunnah Azzam membaca bab yang harus ia jelaskan nanti. Tak lama kemudian iqamat dikumandangkan. Kiai Lutfi maju ke depan. Dengan sangat teliti ia menata barisan. Masjid itu penuh oleh santri dan masyarakat umum. Takbiratul ihram menggema sampai ke relung relung jiwa seluruh makmum. Azzam shalat dengan hati bergetar.

Selesai shalat ashar setelah istighfar Kiai Lutfi langsung naik ke mimbar,

Assalamu'alaikum wr. wb. Jamaah sekalian, bapak bapak dan ibu-ibu yang mulia. Sore ini Kiai Rosyad, seorang ulama dari Boyolali dipanggil Allah. Inna lillahi wa inna ilahi raaji'un. Mohon maaf, saya harus takziyah ke sana. Pengajian Al Hikam insya Allah akan digantikan oleh Ustadz Khairul Azzam. Ustadz muda yang baru pulang dari Mesir. Sebelum pengajian mari kita shalat ghaib dahulu bersama. Menshalati jenazah Kiai Rosyad rahimahullah Ta'ala."

Kiai Lutfi kembali ke pengimaman untuk memimpin shalat ghaib. Setelah shalat beliau langsung keluar masjid dan masuk ke mobilnya meluncur ke Boyolali. Beberapa jamaah mengikuti Pak Kiai takziyah. Namun 99 persen jamaah tetap khidmat di dalam masjid.

Di lantai atas, Anna dan Bu Nyai Nur juga duduk khidmat. Anna sangat penasaran apa yang akan disam paikan oleh kakaknya Husna. Hatinya khawatir Azzam akan mengecewakan jamaah. Bukan karena tidak bisa menyampaikan, tapi karena tidak ada persiapan sama sekali. Ia tahu ayahnya suka main todong saja. Kalau ia yang ditodong seperti Azzam pasti akan ia tolak mentah mentah. Bahkan pada orang yang menodong seenaknya seperti itu ia pasti akan marah.

Azzam naik ke mimbar. Dari lantai dua Anna memperhatikan. Azzam tidak tahu kalau putri Kiai Lutfi itu memperhatikannya. Kalau tahu bisa kacau suasana hatinya.

Azzam membuka dengan salam, lalu mengajak para jamaah membuka pengajian dengan bacaan Al Fatihah bersama. Hati Azzam bergetar ketika lantunan fatihah menggema begitu dahsyat. Dilantunkan bersama oleh ratusan orang di rumah Allah yang mulia.

Kemudian Azzam membaca hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah. la telah menguasai keadaan. Barulah Azzam berkata dengan suara yang tenang dalam bahasa Jawa yang halus,

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, jujur, saya ini sebenarnya juga masih bodoh. Maka saya datang ke pesantren ini untuk mengaji. Jujur, saya datang untuk mengaji, untuk menimba ilmu. Bukan untuk mengajar.

Bukan untuk membacakan kitab. Tapi Romo Kiai Haji Lutfi Hakim memaksa saya untuk naik ke mimbar ini. Saya tidak bisa berkutik apa-apa kecuali menjalankan titah Pak Kiai. Sebab saya ini santri.

"Jamaah yang mulia, anggap saja saya ini sedang latihan. Jadi kalau nanti banyak khilaf mohon dimaafkan. Maklum masih bodoh dan sedang latihan.

"Baiklah jamaah yang mulia. Kita akan lanjutkan apa yang sebelumnya telah dibacakan oleh Romo Kiai Lutfi. Terakhir kita sampai pada kalimat hikmah yang ditulis Ibnu Athaillah As Sakandari: Man atsbata li nafsihi tawadhuan fahuwa al mutakabbiru haqqan! Yaitu siapa yang yakin bahwa dirinya merasa tawadhu' maka berarti dia benar benar telah takabbur. Tentu Romo Kiai telah menjelaskan panjang lebar masalah itu." Kalimat-kalimat yang disampaikan Azzam itu terasa ringan masuk kalbu para jamaah. Anna yang ada di atas mulai yakin Azzam akan menyelesaikan tugasnya dengan baik. Anna tidak ingin Azzam gagal dalam menyampaikan isi hikmah Ibnu Athaillah As Sakandari pada ratusan jamaah tetap pengajian Al Hikam.

Anna mendengar Azzam melanjutkan pengajiannya: “Kali ini kita hayati bersama kalimat Ibnu Athaillah yang berbunyi: 'Laisa al Mutawadhi'u al-ladzi idza tawadha'a ra'a annahu fauqa ma shana'...' Artinya, bukanlah orang yang tawadhu' atau merendahkan diri, seorang yang jika merendahkan diri merasa dirinya di atas yang dilakukannya. Misalnya, contoh sederhananya ada orang merasa tawadhu' dengan duduk di belakang suatu majelis, tapi pada saat yang sama ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah di atas itu yaitu duduk di bagian depan majelis itu. Maka orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah As Sakandari bukanlah orang yang tawadhu'. Bahkan sejatinya orang yang sombong.

'Atau misalnya ada orang merasa tawadhu', merasa telah merendahkan diri dengan datang ke suatu tempat menggunakan sepeda ontel, tapi dia merasa dirinya sebenarnya pantas di atas itu yaitu menggunakan motor.

Maka orang seperti ini bukan orang yang merendahkan dirinya, tapi orang yang sombong.

"Lantas siapakah orang yang benar-benar tawadhu'? Orang yang benar-benar merendahkan diri?

Ibnu Athaillah mengatakan di baris selanjutnya: 'Wa lakin al mutawadhi' idza tawadha'a ra-a annahu duna ma shan'a. Artinya tetapi orang yang benar-benar merendahkan diri adalah orang yang jika merendahkan diri merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu yang dilakukannya. Misalnya, ada orang yang dipaksa duduk di bagian agak depan suatu majelis, ia akhirnya duduk di bagian agak depan, tapi ia merasa sesungguhnya dirinya lebih pantas duduk di belakang. Atau misalnya di masyarakat ada orang yang dimuliakan dan dihormati banyak orang, ia selalu merasa dirinya, sejatinya belum pantas menerima penghormatan seperti itu. Itulah orang yang tawadhu'."

Azzam berhenti sejenak memandang ke wajah beberapa hadirin. Di lantai dua tanpa sepengetahuan Azzam, Anna menyimak semua kalimat Azzam dengan seksama. Azzam merasa beruntung bahwa bagian kitab Al Hikam yang ia jelaskan ini pernah ia dapatkan penjelasannya dari Imam Muda bernama Adil Ramadhan.

Dia adalah imam di masjid tak jauh dari apartemennya di Cairo. Imam muda itu sebenarnya adalah kakak kelasnya di Fakultas Ushuluddin, dan usianya sama dengannya. Adil Ramadhan lulus S.l. dengan predikat terbaik di angkatan nya, dan sekarang sudah diangkat sebagai asisten dosen di Universitas Al Azhar. Azzam merasa beruntung bahwa ia telah mengkhatamkan Al Hikam dibimbingan Imam Adil Ramadhan.

Azzam menambah penjelasannya,

Jamaah yang mulia, tawadhu' adalah sifat orang-orang mulia. Tawadhu' adalah sifat para nabi dan rasul. Kebalikan dari tawadhu' adalah takabbur, sombong. Ulama sepakat bahwa takabbur itu diharamkan dalam Islam! “Sombong adalah sifat milik Allah saja, yang berhak memiliki hanya Allah. Tidak boleh ada satu makhlukpun yang menyaingi Allah dalam hal ini. Siapa yang menyaingi Allah dan merasa berhak memiliki sifat takabbur maka dia berarti merasa menjadi Tuhan manusia. Orang yang seperti ini pasti mendapat murka dari Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, 'Sombong adalah selendang ku, dan agung adalah pakaianku. Siapa yang menyaingi Ku dalam salah satu dari keduanya maka akan Aku lempar dia ke dalam neraka Jahannam.17' 17 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan Muslim

Karena rasa sayang dan cinta Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk tawadhu'. Lalu karena rasa sayang dan cinta juga Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk tawadhu'. Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan aku agar tawadhu', jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain, jangan sampai ada yang congkak pada orang lain.'18 18 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud

Rasulullah adalah teladan bagi orang berakhlak mulia.

Beliau makhluk Allah paling mulia namun juga orang paling tawadhu' dalam sejarah ummat manusia. Sejak muda Rasulullah selalu merendahkan' dirinya.

"Contoh yang menggetarkan jiwa kita, adalah beliau sama sekali tidak risih menjadi pengembala kambing. Dengan mengembala kambing beliau tidak hanya

merendahkan diri pada manusia juga pada binatang. Beliau tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang bau dan kotor. Beliau menjaga dan melayani kambing dengan penuh kasih sayang. Jika ada kambing yang melahirkan beliau membantu persalinannya. Tidak ada jarak antara beliau dengan kambing yang digembalakarmya. Rasulullah tawadhu' tidak hanya pada manusia juga pada binatang ternak yang di-gembalakannya.

"Contoh sifat tawadhu' Rasulullah yang lain adalah beliau masih mau memakan makanan yang jatuh ke tanah. Dapat kita baca dalam Sirah Nabawiyyah bahwa setiap ada makanan jatuh ke tanah, Rasulullah Saw. tidak mem biarkannya. Beliau pasti mengambilnya dan mem bersihkannya. Beliau membuang kotoran seperti debu yang menempel padanya lantas memakannya. Beliau selalu menjilati jari-jarinya setelah makan. Beliau tidak merasa risih akan hal itu sama sekali.

"Anas bin Malik ra., pembantu Rasulullah Saw., menjelaskan jika Rasul makan beliau menjilati jari-jarinya tiga kali. Anas meriwayatkan: Rasulullah Saw. bersabda, 'Jika makanan kalian jatuh maka buanglah kotorannya dan makanlah dan jangan meninggalkannya untuk setan!19 19 Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Para sahabat nabi juga menghiasi dirinya dengan sifat merendahkan diri. Suatu hari Ali bin Abi Thalib membeli kurma satu dirham dan membawanya dalam selimutnya. Saat itu Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang

memimpin ummat Islam seluruh dunia. Ada seorang lelaki melihatnya dan berkata padanya, 'Wahai Amirul Mu'minin, tidakkah kami membawakannya untukmu?' Ali menjawab dengan merendahkan diri, 'Kepala keluarga lebih berhak membawanya.'20 20 Al Bidayah wan Nihayah

Jamaah yang mulia, sejarah membuktikan hancurnya seseorang juga hancurnya suatu bangsa di antaranya adalah kesombongan dan kecongkakan yang dilestarikan. Seorang ulama menjelaskan hakekat sombong adalah jika seseorang merasa pantas dibesarkan padahal sejatinya tidak pantas. Jika seseorang merasa pantas menempati suatu derajat padahal ia belum pantas.

"Bangsa kita ini akan bisa binasa jika masih banyak orang-orang yang sombong. Bahkan sombong yang telah membudaya. Misalnya, ada seorang yang masuk Fakultas Kedokteran dengan membayar uang yang berjuta-juta rupiah jumlahnya kepada pihak universitas. Ia tetap memaksakan diri masuk Fakultas Kedokteran, ia merasa pantas. Padahal sejatinya ia tidak pantas. Nilainya masih kurang. Tapi ia merasa pantas karena memiliki uang.

Kepantasan itu bahkan ia beli dengan uang. Ia tidak hanya sombong. Lebih sombong lagi, ia membiayai kesom bongannya itu. Maka yang akan jadi korban selain dirinya sendiri ya bangsa ini. Akan muncul di negeri ini nanti ribuan dokter yang tidak tahu apa-apa. Sehingga malpraktek ada di mana-mana.

"Ada juga maskapai penerbangan yang sombong. Sebenarnya tidak pantas dan tidak layak terbang. Tapi merasa layak terbang. Merasa layak dibesarkan. Ia mempropagandakan perusahaannya sedemikian menyilaukan. Padahal pesawatnya adalah barang rongsokan.

Pilotnya belum lulus jam terbang. Tapi ia sombong. la merasa layak terbang. Akibatnya jika demikian kebi nasaanlah yang datang berulang-ulang.

"Juga, banyak orang merasa layak jadi pemimpin. Merasa layak jadi negarawan yang mengatur bangsa. Padahal mengatur diri sendiri saja tidak bisa. Mengatur keluarganya saja tidak bisa. Tapi ia merasa layak ditinggikan sebagai pengatur negara. Sesungguhnya yang mendorong itu semua adalah kesombongannya. Maka, jika sudah demikian hukuman dari Allah tinggal ditunggu kapan datangnya."

Sore itu Azzam hanya membaca dua baris saja dari kitab Al Hikam. Namun penjelasannya cukup panjang dan mendalam. Bu Nyai Nur tersihir oleh uraian Azzam. Sementara Anna diam-diam semakin kagum pada pemuda itu. Anna kembali ingat perkataan ayahnya. Dan benarlah perkataan Abahnya malam itu:

Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan." Begitu turun dari mimbar ratusan jamaah menyalami nya. Para santri berebutan ingin mencium tangannya.

Setiap kali mau dicium dengan cepat Azzam menarik tangannya. Ia merasa sangat tidak pantas dicium tangannya. Dosanya masih menggunung dan aib dirinya tak terhitung jumlahnya. Ia yakin jika yang ingin mencium tangannya melihat dosa dan aibnya, pasti akan menjauh darinya, tak akan sudi mencium tangannya.

Pak Mahbub ikut menyalaminya dan memeluknya erat-erat dengan mata berkaca-kaca,

Semoga ilmumu barakah Zam. Aku bangga padamu, Anakku. Aku jadi teringat ayahmu, teman seperjuangan Bapak. Semoga manfaat ilmumu menjadikan ayahmu diangkat derajatnya disisi Allah."

"Amin. Doanya Pak Mahbub. Dan mohon bimbingannya, saya masih harus banyak belajar." Lirih Azzam.

Seorang bapak-bapak setengah baya dengan batik biru keemasan datang menyalami Azzam dengan menyungging senyum, 'Aku bahagia ada anak muda sepertimu Nak. Pak Kiai Lutfi tidak salah memilihmu. Kalau boleh tahu Nakmas sudah menikah?" Bahasa lelaki itu halus dan santun. "Belum Bapak."

Kebetulan kalau begitu. Siapa tahu jodoh. Saya punya anak perempuan masih kuliah. Nama saya Ahmad Jazuli. Ini kartu nama saya. Nakmas boleh dolan bila ada waktu luang." Azzam menerima kartu nama yang diulurkan bapak itu dengan dada bergetar.

Sepulang dari takziyah Kiai Lutfi langsung bertanya pada Bu Nyai,

Bagaimana Mi tadi pengajiannya?" Kiai Lutfi duduk meletakkan punggungnya di sofa.

Di luar senja mulai turun. Sinar matahari yang kekuning kuningan perlahan mulai pudar. Para santri ada yang sibuk mandi, ada yang sudah rapi, ada yang sibuk menata baju bajunya dan memasukkan ke dalam almari. Mendengar pertanyaan itu spontan Bu Nyai Nur menjawab dengan penuh semangat,

Wah luar biasa Bah! Pemuda itu bahasa Jawanya enak Penjelasannya runtut dan dalam. Cuma dua baris saja dari kitab Al Hikam yang dia bacakan. Tapi penjelasannya masya Allah Bah. Haditsnya ia sampaikan. Seolah-olah dia itu hafal ratusan hadits. Terus contoh-contohnya mulai dari yang kecil-kecil, contoh tawadhu'nya Rasulullah, ada juga contoh sahabat. Terus itu Bah, bagusnya penjelasannya itu lho, masuk juga untuk keadaan bangsa saat ini. Jujur Bah ya, tapi Abah jangan marah lho!"

Apa itu Mi?"

Pertama, penjelasan Azzam dan cara menerangkannya lebih aku suka daripada caranya Abah. Menurutku Abah terlalu membuat tasawuf angker. Terus contoh contoh yang Abah sampaikan seringnya cuma Mbah Kiai ini begini, Mbah Kiai itu begini, Syaikh ini begini, Syaikh itu begini. Langsung saja Bah kayak Azzam tadi, langsung induk-induknya yang diambil. Langsung Rasulullah, baru yang Iain-lain sampai masuk keadaan sekarang ini."

Anna mendengar perbincangan kedua orang tuanya itu dari dapur. la tersenyum Abahnya dikritik Umminya. Dalam hati Anna berkata,

Bagus Mi, ayo terus kritik Abah. Biar semakin maju dan tercerahkan."

la ingin tahu apa jawaban Abahnya. Apakah akan marah dan tinggi hati atau sebaliknya. Kalau marah maka ia akan sarankan kepada Abahnya agar tidak usah membacakan kitab Al Hikam saja. Kalau marah berarti Abahnya sombong. Dan sebaiknya Abahnya belajar tidak sombong baru menga jarkan Al Hikam.

"Iya maklum Mi. Azzam itu kuliah sampai Mesir, lha Abah kan cuma pesantren lokal. Kalau Azzam Ummi lihat lebih baik dari Abah alhamdulillah, Abah bersyukur, akan terus ada penerus perjuangan menegakkan kalimat Allah. Itu kan yang pertama Mi. Yang kedua apa?" Anna tersenyum mendengar jawaban Abahnya. Abahnya sungguh lapang dada.

Tapi Anna senyum Anna hilang begitu mendengar perkataan Umminya,

Maaf Bah, entah kenapa hati Ummi sebenarnya kok cenderung pada pemuda itu setelah tadi mendengarkan uraiannya. Ummi merasa pemuda itu cocok jadi anak Ummi."

Maksudmu jadi menantumu."

Iya Bah."

Sudahlah Mi. Ummi ini panutan. Ummi harus bersyukur atas segala pemberian Allah. Semua manusia ada kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Anna sudah memilih Furqan. Insya Allah itu pilihan terbaik. Abah yakin Furqan juga punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh pemuda itu. Jangan mengatakan hal ini sama Anna. Nanti dia malah sedih. Kita harus dukung apa yang dipilih Anna, meskipun kita sebenarnya punya pilihan dan kriteria yang berbeda." Jawab Kiai Lutfi.

Di belakang tanpa mereka ketahui Anna mendengarkan itu semua. Anna berusaha menahan tangisnya. Pelan-pelan ia naik ke lantai atas. Dan masuk ke kamarnya.

Di kamar ia kembali menangis. Ia tak kuasa menahan sesak di dalam dada.

0 komentar:

Posting Komentar

REVAN NINTANG BLOG. Diberdayakan oleh Blogger.