Tampilkan postingan dengan label KETIKA CINTA BERTASBIH 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KETIKA CINTA BERTASBIH 1. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2009

26 Dalam Duka

Husna menunggui kakaknya dengan terus berzikir kepada Allah dan memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah. Pipi kiri kakaknya berdarah. Tangan kiri kakaknya berdarah. Juga kaki kiri kakaknya. Ada selang kecil yang dimasukkan ke tangan kanannya. Alat pendeteksi detak jantung kakaknya ada di samping ranjang. Ia terus berdoa kepada Allah agar kakaknya segera siuman. Orang yang sangat dicintainya itu kini terkulai tak berdaya. Dengan beberapa bagian tubuh terkoyak dan berdarah.
Pukul lima sore, ia melihat tangan kakaknya bergerak. Lalu kedua kelopak matanya bergerak. Lalu perlahan membuka.
Kak Azzam.” Lirihnya dengan linangan air mata. Azzam membuka kedua matanya.
Allah.” Itulah kalimat yang keluar dari getar bibirnya. Ia mengerjapkan matanya. Lalu melihat adiknya,
Husna.” Husna berusaha tersenyum pada kakaknya. “Iya Kak. Alhamdulillah kakak sudah siuman.” ”Ini rumah sakit ya?”
Iya.”
Mana bu’e?”
Tenang kak. Bue baik di tempat istirahatnya.”
Maafkan Kakak ya Dik. Kakak kecelakaan. Bue pasti kesakitan. Maafkan.” Lirih Azzam sambil berlinang air mata.
Azzam berusaha menggerakkan badannya. Namun nyeri luar biasa.
Seorang perawat mendekat. “Sudah siuman?”
Alhamdulillah. Sudah Mbak.”
Begini, pertolongan pertama sudah kami lakukan. Masa kritis kakak Anda sudah lewat. Agar lebih terjaga. Sebaiknya kakak Anda dirawat di Solo, di sana peralatan lebih lengkap. Terutama untuk operasi tulang. Kami lihat kaki kiri kakak Anda patah. Semakin cepat dioperasi akan semakin baik. Kami akan memberi rujukan silakan pilih rumah sakit mana yang Mbak pilih.” Jelas perawat itu
Yarsi bisa Mbak?”
Bisa. Kalau begitu kami akan siapkan segalanya secepatnya.”
Pokoknya siapkan yang terbaik untuk kakak saya.” “Baik.”
Perawat itu pergi. Kedua mata Azzam berkaca-kaca mendengar percakapan perawat itu dengan adiknya. Ia tahu apa yang terjadi pada dirinya. Kakinya patah harus dioperasi. Ia akan terkapar di rumah sakit dalam waktu yang lama. Dan ia akan istirahat di rumah dalam waktu yang lama. Di Cairo dulu pernah ada mahasiswa Indonesia yang dioperasi karena patah tulang saat sepakbola. Dan untuk sembuh ia harus istirahat yang lama.
Jika kaki kakak patah, lalu bu’e bagaimana Dik?” “Dia baik Kak, sedang istirahat.”
Jelaskan pada Kakak.”
Kakak jangan mikir bu’e dulu.”
Terus bu’e sama siapa sekarang?”
Sama Lia. Bue sudah dibawa pulang tadi.”
Jadi bu’e tidak apa-apa?”
Sekarang sudah tidak apa-apa. Bue sudah tenang.”
Syukurlah.” Kata Azzam sambil memejamkan mata.
Ambulan sudah siap. Kita bisa langsung ke Solo.” Perawat tadi datang lagi.
Kita langsung berangkat Mbak?”
Iya. Tapi Mbak selesaikan dulu administrasinya di sana ya. Kami akan membawa kakakmu ke ambulan.”
Baik.”
Husna melangkah ke bagian administrasi. Dua perawat pria datang dan mendorong ranjang Azzam menuju ambulan. Ketika melangkah ke bagian administrasi Lia dan Anna datang.
Semoga musibah ini jadi sumber pahala ya Na. Kami ikut berduka.” Lirih Anna sambil merangkul Husna.
Terima kasih sudah mau datang.” Jawab Husna “Bagaimana kak Azzam Mbak?” Tanya Lia
Ada tulang yang patah, ini mau dirujuk ke Solo yang lebih lengkap peralatannya. Kak Azzam harus operasi tulang.”
Inna lillah.” Lirih Lia.
Kasihan dia. Semoga kakakmu diberi ketabahan oleh Allah.” Ucap Anna pelan.
Dik kamu bawa uang? Kakak cuma ada tiga ratus ribu. Kita harus selesaikan administrasi dulu baru berangkat.
Saya cuma ada seratus ribu. Ayo coba dulu berapa semuanya.” Kata Husna sambil melangkah ke loket.
Yang mau dipindah ke Solo ya?” Tanya pegawai loket. ”Iya.”
Semuanya satu juta setengah Mbak. Sudah semuanya. Sudah termasuk biaya dua ambulan.”
Dik Lia, gimana nih. Kita cuma ada empat ratus ribu.” Husna agak bingung.
ATM kakak?” Tanya Lia.
Kosong, sudah habis untuk persiapan nikah.” Husna panik.
Masih kurang berapa? Pakai uangku dulu saja.” Anna tahu kepanikan Husna dan Lia.
Satu juta seratus Mbak.” Jawab Husna.
Tunggu aku ambil dulu di ATM.” Anna melangkah keluar mengambil uang di ATM. Tak lama kemudian Anna datang dan menyerahkan uang kepada Husna.
Kelihatannya banyak sekali. Berapa ini Mbak?” Tanya Husna.
Aku ambil lima juta. Pakai saja dulu. Nanti di Solo kalian pasti perlu ini itu.”
Terima kasih Mbak. Insya Allah nanti saya kembalikan secepatnya. Sebenamya saya yakin Kak Azzam masih punya uang.”
Sudah biarkan Mas Azzam itu tenang dulu. Nggak usah mikir uang dulu kasihan dia.” Kata Anna.
Setelah membereskan administrasi mereka berangkat ke Solo. Gantian Lia yang menemani Azzam di mobil ambulan. Dan Husna ikut mobil Anna Althafunnisa. Hari Sudah mulai gelap ketika mereka masuk di R.S. Yarsi. Begitu sampai Husna langsung bilang kepada pihak rumah sakit,
Tolong berikan yang terbaik untuk kakakku. Operasi yang terbaik. Berapa pun biayanya tidak jadi soal. Saya yang menanggung. Ini kartu identitas saya Ayatul Husna, Psikolog dan Dosen di UNS.”
Kata-kata Husna tegas. Ia tahu banyak rumah sakit yang kurang memperhatikan pasien hanya gara-gara sang pasien atau keluarga pasien dianggap tidak punya biaya.
Baik.” Jawab pihak rumah sakit. Diam-diam Anna kagum juga dengan ketegasan Husna. Tiba-tiba ia merasa kecil dibandingkan gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis yang ditempa oleh pelbagai masalah kehidupan. Dan ketika ia kagum pada gadis itu maka mau tak mau ia harus kagum pada kakaknya. Kakaknyalah yang mendidik adiknya itu dari jarak jauh.
Tadi kami sudah berusaha mencegah bu’e. Kak Azzam juga sebenarnya tidak mau. Tapi bu’e ngotot. Sebelum pergi bu’e minta dibuatkan teh hangat. Bue berkata, ’Teh buatanmu lain rasanya Na. Enak. Ibu ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.’ Ternyata memang itulah terakhir kalinya minum teh hangat buatanku.” Husna bercerita sambil berlinang air mata pada Anna. Hal itu malah membuat mata Anna berkaca-kaca.
Iya tadi di rumah beliau juga minum teh buatanku. Kelihatannya beliau ceria sekali. Abah sempat menawarkan agar beliau saya antarkan pulang ke rumah pakai mobil. Tapi beliau tidak mau. Beliau ngotot menerobos gerimis bersama Mas Azzam ke rumah Kiai Kamal. Abah sangat menyesal dalam hal ini, karena tidak memenuhi harapan ibumu.” Kata Anna terisak. Di dalam hati Anna merasa dirinyalah pangkal musibah ini. Abahnya menolak mengisi pengajian di acara walimah itu karena merasa terpukul dengan kegagalan pernikahannya dengan Furqan. Maka dialah pangkal musibah ini. Itulah perasaan berdosa Anna yang menggelayut di pikirannya.
Abahmu tidak salah. Memang sudah tiba ajalnya. Orang kalau sudah tiba ajalnya ada saja sebab yang menjadi perantaranya.” Ujar Husna pada Anna.
Kau benar. Terus bagaimana dengan pesta perkawinanmu nanti?”
Itu nanti. Yang sekarang ada dalam pikiranku adalah bagaimana agar kakakku bisa kembali seperti semula. Aku ingin kakakku bisa berjalan seperti semula. Kaki dan tangan kakakkulah yang turut menempa jati diri seorang Husna. Sekarang ini yang aku pedulikan hanyalah kakakku.”
Kau begitu sayang pada kakakmu.”
Kalau kamu punya kakak seperti dia aku yakin kamu pasti sayang padanya.”
Semoga dia baik-baik saja.”
Amin.” Malam itu Azzam harus masuk ruang operasi. Setelah dirongent ia mengalami patah di betis kirinya, lengan bawah tangan kiri, dan dua tulang rusuk dada kirinya. Ia harus operasi tulang kaki dan tangannya. Husna dan Lia tetap di sana sampai operasi selesai. Anna dengan setia menemani dua gadis yang sedang dalam duka itu. Sesekali Anna keluar membelikan makan buat mereka.
Jam dua malam operasi itu selesai. Azzam dimasukkan ke dalam kamar kelas satu. Husna yang minta. Uang bisa dicari belakangan yang penting nyaman. Dokter bedah yang meyakinkan Husna, Lia dan Anna bahwa Azzam akan bisa kembali seperti sedia kala.
Insya Allah, dia akan pulih lagi. Hanya nanti tentu perlu proses sampai tulang-tulangnya menyatu dan kuat lagi- Kami akan beri obat penyambung tulang terbaik.
Bersyukurlah bahwa yang patah bukan tulang belakangnya. Dan alhamdulillah kepalanya tidak apa-apa. Hanya gegar ringan yang itu biasa dalam kecelakaan ringan sekalipun. Saya dulu pernah jatuh dari tempat tidur kepala membentur lantai dan gegar ringan. Insya Allah nanti dia akan sembuh seperti semula. Tenang saja.”
Dokter muda yang bernama Yusuf itu dengan sangat ramah menjelaskan secara detil apa yang dialami Azzam. Penjelasan itu membuat hati Husna, Lia dan Anna lega. Mereka bertiga berjaga di rumah sakit itu sampai pagi. Setelah operasi Azzam tertidur. Ia tidak tahu bahwa Anna juga turut menjaganya bersama adik-adiknya.
Pagi harinya Pak Mahbub mengantarkan Vivi dan keluarganya menjenguk Azzam. Saat itu Azzam sedang sedihsedihnya karena diberi tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia. Azzam sudah bisa diajak berbincang bincang siapa saja. Begitu ia tahu Vivi dan keluarganya datang ia menyeka air matanya dan menata jiwanya. Vivi menatap Azzam dengan linangan air mata.
Maafkan saya, mungkin saya harus tetap terbaring di sini. Sehingga saya tidak mungkin ke Kudus untuk akad nikah denganmu. Maafkan. Kita manusia hanya bisa berikhtiar tapi Allah jugalah yang menentukan.” Ucap Azzam pada Vivi yang di dampingi kedua orang tuanya.
Bersabarlah. Ini musibah kita bersama. Aku akan setia menunggumu, sampai kamu sembuh.” Vivi menenangkan
Azzam dan membesarkan jiwanya.
Terima kasih Vivi. kamu baik sekali. kamu tahu berapa lama lagi kira- kira akan sembuh. Temanku di Mesir dulu menunggu sampai satu tahun baru dia bisa berjalan. Aku tak ingin mengikatmu dengan rasa kasihanmu padaku. Pertunangan itu belumlah akad nikah. Itu baru semacam perjanjian. Aku tidak ingin menzalimimu. Sejak sekarang aku beri kebebasan kepadamu. Kalau kamu sabar menunggu ku maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kamu ternyata di tengah penantian merasa tidak kuat, maka kamu boleh menikah dengan siapa yang kamu suka. Aku tahu umurmu sama dengan umurku. Sebentar lagi kamu berkepala tiga.” Kata Azzam dengan lapang dada.
Husna takjub dengan kata-kata kakaknya itu. Kakaknya benar-benar dewasa cara berpikirnya. Dan hebatnya kakaknya tidak mau dikasihani. Kakaknya masih menunjukkan karakternya sebagai Khairul Azzam yang pantang menyerah. Khairul Azzam yang sangat percaya dan yakin akan karunia Allah.
Aku akan berusaha setia.” Kata Vivi.
Terima kasih atas kebesaran jiwamu.” Lanjut gadis yang berprofesi sebagai dokter di Puskesmas Sayung itu. Setelah merasa cukup Pak Mahbub dan keluarga dari Kudus minta pamit. Sebelum meninggalkan ruangan itu Vivi masih sempat melihatnya kembali. Dan tersenyum padanya sebelum pergi.
Azzam berusaha tersenyum. Begitu Vivi pergi Azzam menangis tersedu- sedu. Ia teringat pesta pernikahannya yang batal. Ia teringat gerbang pernikahan yang ada di depan mata.
Kenapa kita harus banyak menangis hari-hari ini ya Na?” Tanya Azzam pada adiknya.
Mungkin Allah sedang menyiapkan cara agar kita bisa tersenyum indah setelahnya.” Jawab Husna.
Semoga jawabanmu itu benar.”
Insya Allah kak. Janji Allah bersama kesukaran pasti ada kemudahan.”
Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.”
Pasti.”
Dan Husna juga membatalkan pernikahannya. Ia mengatakan kepada Ilyas bahwa ia akan menikah setelah kakaknya bisa berjalan. Ia tidak akan meninggalkan kakaknya terkapar sendirian di rumah sakit, sementara ia berbulan madu dengan suaminya. Ia lalu mengatakan kepada Ilyas seperti yang dikatakan kakaknya pada Vivi,
Mas Ilyas tentu paham bahwa pertunangan itu belumlah akad nikah. Itu baru semacam perjanjian. Aku tidak ingin menzalimimu. Sejak sekarang aku berikebebasan kepadamu. Kalau kamu sabar menungguku maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kamu ternyata di tengah penantian merasa tidak kuat, maka kamu boleh menikah dengan siapa yang kamu suka.”
Jawaban Ilyas hampir mirip dengan jawaban Vivi, “Insya Allah aku akan setia padamu. Akan aku selesaikan dulu masterku baru aku akan menikahimu.”
Terima kasih Mas.”
Azzam dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Selama sepuluh hari, hampir setiap hari selalu ada yang datang menjenguk. Selain warga dukuh Sraten, karyawannya di bisnis bakso dan foto copy, banyak juga jamaah pengajian Al Hikam yang datang. Setiap kali ada yang datang, semangat hidup Azzam berkobar, semangatnya untuk sembuh menyala.
Dalam sebuah perenungan akan duka yang dialaminya, Azzam menulis puisi dalam hatinya untuk meneguhkan jiwanya:
dalam duka kita berguru pada hujan yang terus menyiram arang hitam dengan kesabaran siang malam kuncup-kuncup pun bermekaran meneguhkan harapan-harapan “
Pada hari ke delapan dan ke sembilan Azzam dilatih bagaimana menggunakan krek. Setelah dilihat bisa menggunakan krek dengan baik dan pengaruh gegar kepalanya hilang Azzam diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan untuk banyak di rumah dulu dan menasihati untuk tidak sekali-kali berjalan atau berdiri tanpa bersandar pada krek.
Kau boleh lepas krek, kalau aku sudah mengatakan kamu boleh lepas!” Demikian kata Dokter Yusuf sesaat sebelum pulang.
Pada saat ia siap untuk keluar kamar Kiai Lutfi datang, bersama Bu Nyai dan Anna. Kiai Lutfi minta maaf kepada Azzam atas peristiwa pagi hari itu. Kiai Lutfi tak henti hentinya menyesali penolakannya waktu itu.
Kalau aku penuhi permintaan ibumu mungkin tidak terjadi kecelakaan. Sungguh aku mohon maaf Azzam. Aku merasa berdosa.” Kata Kiai Lutfi.
Pak Kiai tidak salah. Ini sudah tercatat di sana.” Jawab Azzam sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas.
Terus bagaimana dengan kelanjutan pernikahanmu?” Tanya Kiai Lutfi.
Biarlah Allah yang menentukan.” Jawab Azzam.

1 SENJA BERTASBIH DI ALEXANDRIA

Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.

Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada juga yang bermain rumah-rumahan dari pasir. Di tangan anak -anak itu pasir pasir putih tampak seumpama butir-butir emas yang lembut berkilauan diterpa sinar matahari senja.

Di beberapa tempat, di sepanjang pantai, sepasang muda mudi tampak bercengkerama mesra. Di antara mereka masih ada yang membawa buku-buku tebal di tangan. Menandakan mereka baru saja dari kampus dan belum sempat pulang ke rumah. Suasana senja di pantai rupanya lebih menarik bagi mereka daripada suasana senja di rumah. Bercengkerama dengan pujaan hati rupanya lebih mereka pilih daripada bercengkerama dengan keluarga; ayah, ibu, adik dan kakak di rumah.

Di mana-mana muda-mudi yang sedang jatuh cinta sama. Senja menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita yang indah-indah. Saat itu yang ada dalam hati dan pikiran mereka adalah pesona sang kekasih yang dicinta. Tak terlintas sedikit pun bahwa senja yang indah yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika masa muda mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta Cinta. Dan jatuh cinta mereka pun harus dipertanggung jawabkan kepada-Nya: Di hadapan pengadilan Dzat Yang Maha Adil, yang tidak ada sedikit pun kezaliman dan ketidakadilan di sana.

Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu indah.Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih. Bergelombang naik turun. Berkejar kejaran menampakkan keriangan yang sangat menawan. Semilir angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama desau suara zikir alam yang menciptakan suasana tenteram.

Dari jendela kamarnya yang terletak di lantai lima Hotel Al Haram, ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan kedamaian saja.

Sesungguhnya bukan semata -mata cuaca dan suasana menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja itu begitu memesona. Bukan semata-mata sihir matahari senja yang membuat Alexandria begitu menakjubkan. Bukan semata-mata pasir putihnya yang bersih yang membuat Alexandria begitu menawan. Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menakjubkan adalah karena musim semi sedang bertandang di hatinya. Matahari keba hagiaan sedang bersinar terang di sana. Bunga bunga kesturi sedang menebar wanginya. Tembang tembang cinta menga lun di dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya. Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah.

Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dika gumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.

Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-satunya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani kedua orangtuanya, keberadaannya di Negeri Pyramid itu untuk melanjutkan S.2 -nya di American University in Cairo (AUC).

Belum begitu lama menghirup udara Mesir, gadis yang memiliki suara jernih itu langsung menunjukkan prestasinya. Kontan, ia langsung jadi pusat perhatian . Sebab baru satu bulan di Cairo, tulisan opininya dalam bahasa Inggris sudah dimuat di koran Ahram Gazzette. Opininya menyoroti peran Liga Arab yang mandul dalam memperjuangkan martabat anggota -anggotanya. Liga Arab yang tak punya nyali berha dapan dengan Israel dan sekutunya. Liga Arab yang hanya bisa bersuara, tapi tidak bisa berbuat apa -apa. Tulisannya rapi runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplomat ulung.

Karena opininya itulah ia langsung diminta jadi bintang tamu di Nile TV. Di layar Nile TV ia berdebat dengan Sekjen Liga Arab. Hampir seluruh masyarakat Indonesia di Mesir menyaksikan siaran langsung istimewa itu. Baru kali ini ada anak Indonesia berbicara di sebuah forum yang tidak sembarang orang diundang. Sejak itulah Eliana menjadi bintang yang bersinar di langit cakrawala Mesir, terutama di kalangan mahasiswa Indonesia.

Terhitung, gadis yang menyelesaikan S.l-nya di EHESS Prancis itu sudah tiga kali tampil di layar televesi Mesir. Sekali di NileTV. Dua kali di Channel 2. Wajahnya yang tak kalah pesonanya dengan diva pop dari Lebanon, Nawal Zoughbi, dianggap layak tampil di layar kaca. Selain karena ia memang putri seorang duta besar yang cerdas dan fasih berbahasa Inggris dan Prancis.

Eliana, Putri Pak Dubes itulah yang membuatnya berada di Alexandria dan tidur di hotel berbintang lima selama satu pekan ini. Meskipun ia sudah berulangkali ke Alexandria, namun keberadaannya di Alexandria kali ini ia rasakan begitu istimewa. Ia tidak bisa mengingkari dirinya adalah manusia biasa, bukan malaikat. Ia tak bisa menafikan dirinya adalah pemuda biasa yang bisa berbunga -bunga karena merasa dekat dan dianggap penting oleh seorang gadis cantik dan terhormat seperti Eliana. Gadis yang membuat matahari keba hagiaan sedang bersinar terang di hatinya.

Awalnya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang mengadakan acara "Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di Alexandria". Beberapa acara pagelaran budaya digelar di Auditorium Alexandria University selama satu pekan. Selama itu juga ada promosi masakan dan makan an khas Indonesia. Ada empat makanan yang dipromosikan yaitu Nasi Timlo Solo, Sate Madura, Coto Makassar, dan Empek-empek Palembang. Dan Elianalah yang menjadi penanggung jawab promosi makanan khas Indonesia itu. Sementara ia, dikenal sebagai mahasiswa paling mahir memasak. Dan ia dikontrak KBRI untuk membuka stand Nasi Timlo Solo. Mulanya ia menolak. Sebab, dengan begitu ia harus meninggalkan bisnisnya membuat tempe selama semingu. Ia khawatir langganannya kecewa. Namun Putri Dubes itu terus mendesak dan memohon kesediaannya. Akhirnya ia luluh dan bersedia.

Sejak itulah hatinya berbunga -bunga. Sebab sebelum berangkat ke Alexandria ia sering ditelpon Eliana. Dan saat di Alexandria hampir tiap hari Eliana datang ke standnya untuk mengontrol, melihat-lihat, atau hanya sekadar untuk menga jaknya bicara apa saja.

"Aku salut Iho ada mahasiswa yang mandiri seperti Mas Insinyur." Puji Eliana. Hatinya tersanjung luar biasa.

Bagaimana tidak, gadis jelita itu seolah begitu menghormatinya. Ia dipanggil dengan panggilan "Mas Insinyur", bu kan langsung memanggil namanya, atau dengan kata ganti "kamu" atau "Anda". Orang-orang memang biasa memanggilnya "Mas Khairul", karena namanya Khairul Azzam, atau "Mas Insinyur" karena ia memang dikenal sebagai "Insinyur"nya dunia masak memasak di kalangan mahasiswa Indonesia di Cairo. Entah kenapa, mendengar pujian dari Eliana itu, ia merasakan kebahagiaan dengan nuansa yang sangat lain. Kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia tersenyum sendiri. Kedua matanya memandang ke arah pantai. Dua orang muda -mudi Mesir berjalan mesra menyusuri Pantai Cleopatra yang berada tepat di depan hotel.

Ia tersenyum sendiri. Entah kenapa tiba -tiba berkelebat pikiran, andai yang berjalan itu adalah dirinya dan Eliana. Alangkah indahnya.

Astaghfirullal! la beristighfar.

Ia merasa apa yang berkelebat dalam pikirannya itu sudah tidak dianggap benar.

Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut Mediterania. Nun jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria. Sejak dulu Alexandria memang terkenal sebagai kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediterania. Pela buhan utama Alexandria saat ini ada di kanan dan kiri kawasan Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu terletak di semenanjung Alexandria lama. Di ujung semenanjung itu berdiri dua benteng bersejarah Yaitu Benteng Qaitbai dan Benteng El Atta.

Dari jendela kamarnya ia bisa melihat Benteng Qaitbai itu di kejauhan. Kedua matanya kembali mengamati tiga kapal yang letaknya berjauhan satu sama lain. Ia edarkan pan dangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manu sia. Dan alangkah Maha Penya -yangnya Tuhan yang menjinakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di antara manu sia yang berada di dalam kapal itu terdapat manusia -manusia yang sangat durhaka kepada Tuhan. Toh begitu, Tuhan masih saja menunjukkan kasih sayangNya. Ia jinakkan lautan, yang jika Ia berkehendak,Ia bisa menitahkan ombak untuk menenggelamkan kapal itu dan bahkan meluluh-lantakkan seluruh isi Kota Alexandria. Ia teringat firman-Nya yang indah,

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kebesaranNya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur." 1 1 OS. Luqman (Luqman) [311]: 3 1

Ia terus memandang ke laut Mediterania. Laut itu telah menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa peristiwa besar yang menggetarkan dunia. Perang besar yang berkobar karena memperebutkan cinta Ratu Cleopatra terjadi di laut itu. Pertemuan bersejarah yang diabadikan dalam Al-Quran an tara Nabi Musa dan Nabi Khidir, konon, juga terjadi di salah satu pantai laut Mediterania itu.

"Laut yang indah, penuh nilai sejarah," lirihnya pada dirinya sendiri. "Akankah aku juga akan mencatatkan sejarahku di pantai laut ini?" Ia berkata begitu karena nanti malam ada jadwal makan malam bersama seluruh staf KBRI di Pantai El Mumtazah. la yakin akan bertemu lagi dengara Eliana disana.

Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan indah. Menyaksikan fenomena alam yang dahsyat itu Azzam bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah mencip takan alam seindah ini."

Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya. Segala keindahan, keteraturan dan pesona alam bertasbih, menjelaskan keagungan Sang Penciptanya . Bertasbih, menyu cikan Tuhan dari sifat kurang. Keindahan senja sore itu menjelaskan kepada siapa saja yang menyaksikannya bahwa Tuhan yang menciptakan senja yang luar biasa indah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna ilmu-Nya.

Siang malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara. laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah Semua telah tahu bagaimana cara melakukan shalat dan tasbihnya. Dengan sinarnya, matahari bertasbih di peredarannya. Dengan hembusannya udara bertasbih di alirannya. Dengan gelombangnya ombak bertasbih di jalannya. Semua telah tahu bagaimana cara menunjukan tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa.

Keteraturan alam semesta, langit yang membentang tanpa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas membentang, gunung gunung yang menjulang, awan yang membawa air hujan, air yang menumbuhkan tanam-tanaman, proses penciptaan manusia sembilan bulan di rahim , binatang-bina tang yang menjaga ekosistem dan keteraturar-keteraturan lainnya, itu semua menuniukkan bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaan-Nya tidak ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu adalah Tuhan Penguasa alam semesta. Dan jelas Tuhan itu hanya boleh satu adanya. Tak mungkin dua, tiga dan seterusnya. Tak mungkin.

Sebab, jika Tuhan itu lebih dari satu pastilah terjadi kerusakan di alam semesta ini. Sebab masing-masing akan merasa paling berkuasa. Masing-masing akan memaksakan keinginan Nya. Mereka akan berkelahi. Misalnya satu menghendaki ma tahari terbit dari timur, sementara yang satu menghendaki matahari terbit dari barat. Terjadilah perseteruan. Dan rusak lah alam.

Ternyata matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tak pernah terlam bat terbit. Matahari juga tak pernah bermain main, belari-lari ke sana kemari di langit seperti anak kecil bermain bola atau petak umpet. Ia beredar di jalan yang ditetapkan Tuhan untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk barat tepat pada waktunya. Keteraturan ini menunjukkan, Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini adalah satu. Yaitu ‘Allah Wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, yang tak terbatas kekuasaan-Nya itu memang tak mungkin berjumlah lebih dari satu. Sebab seandainya Tuhan lebih dari satu, lalu mereka sepakat menciptakan matahari, misalnya. Maka ada dua kemungkinan di sana. Pertama, Tuhan yang satu menciptakan,sementara Tuhan yang lain berpangku tangan. Tidak berbuat apa -apa. Dengan begitu, bisa berarti bahwa Tuhan yang tidak berbuat apa apa itu tidaklah Tuhan yang berkuasa. Sia-sia saja ia jadi Tuhan. Sebab, pada saat matahari diciptakan ia tidak berperan menciptakannya. Ia menganggur. Sama seperti makhluk yang menganggur. Jadi ia bukan Tuhan dan tidak bisa disebutTuhan.

Atau kemungkinan kedua, Tuhan-tuhan itu bekerja sama menciptakan matahari. Matahari diciptakan dengan keroyok an. Jika demikian, jelas jelas mereka bukanlah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab mereka lemah. Bagaimana tidak. Untuk menciptakan matahari saja mereka harus bekerja sama. Tidak bisa menciptakan sendiri. Kekuasaan-Nya tidak mutlak. Yang terbatas kekuasaanya berarti lemah dan tidak layak disebut sebagai Tuhan.

Jika Tuhan itu lebih dari satu, bisa saja terjadi pembagian tugas. Ada yang bertugas mencipta matahari, ada yang bertu gas mencipta bumi, ada yang bertugas mencipta langit dan seterusnya. Jika demikian, mereka bukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab pembagian tugas itu menunjukkan kelemahan, menunjukkan ketidak-mahakuasaan. Tuhan yang sesungguhnya adalah Tuhan Yang menciptakan dan menguasai seru sekalian alam. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan kekuasaan-Nya yang sempurna. Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan yang memiliki sifat maha sem purna seperti itu hanya ada satu, yaitu Allah Swt. Dialah Tuhan yang sesungguhnya. Sebab tidak ada yang memprok lamirkan diri sebagai pencipta alam semesta ini kecuali hanya Allah Swt.

"Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”2 2 QS. Al Anbiyaa’ (Nabi-nabi) [21]: 22

Pemuda bemama Khairul Azzam itu masih menatap ke arah laut. Matahari masih satu jengkal di atas laut. Sebentar lagi matahari itu akan tenggelam. Warna kuning keemasan bersepuh kemerahan yang terpancar dati bola matahari menampilkan pemandangan luar biasa indah. Ia jadi ingat sabda Nabi, ''Sessungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."

"Subhanallah !" Kembali ia bertasbih dalam hati.

Ia terus menikmati detik -detik pergantian siang dan malam yang indah itu. Cahaya matahari seperti masuk ke dalam laut yang perlahan menjadi gelap. Siang seolah olah masuk ke dalam perut malam. Matahari hilang tenggelam. Lalu perlahan bulan datang. Subhanallah. Siapakah yang mengatur ini semua? Siapakah yang mampu memasukkan siang ke dalam perut malam? Seketika azan berkumandang menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang: Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Ya, hanya Allah Yang Maha Besar kekuasaan-Nyalah yang mampu memasuk-kan siang ke dalam perut malam. Dan memasukkan malam ke dalam perut siang.

"Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." 3 3 QS. Luqman ~Luqman) [31]: 29.

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampulampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap kelip lampu kota yang mendapat julukan "Sang Pengantin Laut Mediterania" itu bagai tebaran intan berlian. Khairul Azzam menutup gorden jendela kamarnya. Ia bergegas untuk shalat di masjid yang jaraknya tak jauh dari hotel.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar, telpon di kamarnya berdering. Ia terdiam sesaat. Ia menatap telpon yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka pintu lalu melangkah keluar. “Kalau dia benar-benar perlu, nanti pasti nelpon lagi setelah shalat. Apa tidak tahu ini saatnya shalat," lirihnya menuju lift.

Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan ia harus mendahulukan yang datang lebih dulu. Ia harus mengutamakan undangan yang datang lebih dulu. Apalagi undangan yang datang lebih dulu itu adalah undangan untuk meraih kebahagiaan akhirat. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. 4 4 QS . Al A’la (Yang Paling tinggi) [871]: 17.

Saat pulang dari masjid, Azzam bertemu Eliana didepan pintu masuk lobby hotel. Melihat Azzam wajah Eliana tampak riang.

"Hei ke mana saja? Aku sudah mencari Mas Khairul ke mana-mana? Sudah dua puluh tujuh kali aku ngebel ke kamar Mas Khairul! Ada hal penting! Ayo kita bicara di lobby saja!" Eliana nerocos tanpa memberi kesempatan menjawab. Gadis berpostur tubuh indah itu berbalut kaos lengan panjang ketat berwarna merah muda dan celana jeans putih ketat. Balutan khas gadis -gadis aristokrat Eropa itu membuatnya tampak langsing, padat, dan berisi. Parfumnya menebarkan aroma bunga -bungaan segar dan sedikit aroma apel. Wajahnya yang putih dengan mata yang bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.

Azzam masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa begitu ia mencium parfum yang dipakai Putri Pak Dubes itu ia mera sakan nafasnya sedikit sesak, jantungnya berdegup lebih kencang, dan ada sesuatu yang tiba -tiba datang begitu saja mengaliri tubuhnya.

"Lho kok diam saja, ayo Mas, kita bicarakan di lobby! Ini penting!" Eliana kembali mengajak Azzam masuk ke lobby hotel. Azzam tergagap. Ia mengangguk. Dan mau tidak mau Azzam mengikutinya. Sebab ia berada di Alexandria karena kontrak kerja dengannya.

"Mbak Eliana sudah shalat?" tanya Azzam pelan. Ia mencoba menguasai dirinya, yang sesaat sempat oleng. Ia memanggilnya 'Mbak', meskipun ia tahu Eliana lebih muda tiga tahun dari dirinya. Tak lain, hal itu karena rasa hormatnya pada gadis itu sebagai Putri Pak Duta Besar.

"Ah shalat itu gampang! Yang penting itu. Ada tugas penting untuk Mas Khairul malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!" sahut Eliana nyerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.

Tu... tugas?"

Ya."

"Untuk saya!?"

"Ya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Mas Khairul?" "Tugas dari siapa?"

"Ya dariku."

"Dari Mbak?" "Iya."

Azzam menghirup nafas. Detak jantungnya sudah normal. Ia sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dengan mimik serius ia berkata,

"Sebentar Mbak, bukankah tugas saya sudah selesai tadi sore Mbak? Dengan berakhirnya acara Pekan Promosi Wisata tadi sore berarti tugas saya kan sudah selesai. Dalam kesepakatan yang kita buat, saya bertugas membuat dan menjaga Nasi Timlo Solo selama enam hari. Dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore. Menunggu stand enam jam setiap hari. Berarti tugas saya sudah selesai dong. Jika ada tugas lagi ini jelas di luar kesepakatan. Jelas saya tidak bisa menerimanya Mbak, maaf! Apa hubungannya Mbak dengan saya sehingga dengan seenaknya Mbak memberi tugas kepada saya!? Apa saya bawahan Mbak!? Maaf saya tidak bisa Mbak!"

Meskipun ia di kalangan mahasiswa Cairo dikenal sebagai penjual tempe, ia tidak mau diperlakukan seenaknya. Ia sangat sensitif terhadap hal-hal yang terasa melecehkan harga diriya. Memberi perintah seenaknya kepadanya adalah bentuk dari penjajahan atas harga dirinya. Azzam adalah orang yang sangat menghargai kemerdekaannya sebagai manusia yang hanya mengham-ba kepada Allah Swt.

Eliana yang pernah sekian tahun tinggal di Prancis agaknya langsung menyadari kekhilafannya. Ia buru buru meralat ucapannya dan meminta maaf.

"Maafkan aku Mas Khairul. Mas benar. Sesuai dengan kesepakatan kontrak kita, tugas Mas sudah selesai. Tetapi ini ada masalah penting yang sedang aku hadapi. Dan aku rasa yang bisa membantu adalah Mas. Baiklah, ini di luar kontrak. Ini antara aku dan Mas sebagai sahabat. Ya sebagai sahabat yang harus saling tolong menolong. Saling bantu membantu.

"Begini, acara makan malam nanti jam delapan di Pantai El Muntazah. Aku sudah pesan menunya ke Omar Khayyam Restaurant. Masalahnya, dalam acara makan malam nanti secara mengejutkan kita kedatangan Bapak Duta Besar Indonesia untuk Turki yang datang tadi siang. Beliau teman kuliah ayahku di FISIPOL UGM dulu. Ayah ingin menyuguh kan menu istimewa untuk -nya. Menu yang mengingatkan akan kenangan masa lalu. Menu itu adalah nasi panas dengan lauk ikan bakar dan sambal pedas khas Jogja. Ayah dulu sering makan menu itu bareng beliau di Pantai Parangtritis. Sebelum Maghrib tadi ayah memintaku untuk menyiapkan menu ini. Aku pusing tujuh keliling. Yang jelas aku sudah memerintahkan Pak Ali, sopir KBRI itu untuk mencari ikan yang segar. Ikan apa saja yang penting layak dibakar. Pak Ali membeli enam kilo dan sekarang sudah ada di dalam kulkas di kamamya. Dan aku datang menjumpai Mas untuk minta tolong kepada Mas menyiapkan ikan bakar itu. Mas Insinyur, tolong ya? Please, ya?" Kata Eliana dengan nada memelas.

Azzam diam saja. Sesaat lamanya dia diam tidak menjawab apa -apa.

"Sungguh Mas, tolong aku ya. Please tolonglah. Aku janji nanti Mas akan aku kasih hadiah spesial. Please tolong aku. Ini masalah kredibilitasku dihadapan ayahku. Kalau ngurusi ikan bakar saja aku tidak bisa, beliau akan susah percaya pada kredibilitasku mengorganisir sesuatu yang lebih penting. Tolong aku, Mas, please. Aku tahu ini waktunya sangat mepet. Tapi aku yakin Mas bisa. Ayolah please ya?"

Eliana meminta dengan nada memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di depan hidungnya. Gadis itu benar-benar memelas di hadapan Azzam. Melihat wajah memelas di hadapannya Azzam luluh. Sosok yang sangat tersinggung jika harga dirinya direndahkan itu adalah juga sosok yang paling mudah tersentuh hatinya.

"Baiklah akan saya bantu sebisa saya. Tapi sebelum membantu Mbak Eliana, saya ingin hak saya atas apa yang sudah saya kerjakan selama enam hari di sini dibayar.” Jawab Azzam tenang.

"Sekarang?" "Ya, sekarang."

"Apa Mas Khairul tidak percaya padaku?"

Siapa yang tidak percaya? Saya hanya menuntut hak saya.”

Baiklah.” Eliana mengeluarkan dompet dari celana jeannya. Lalu mengeluarkan lembaran dolar pada Azzam.

"Ini tiga ratus dollar. Seperti kesepakatan kita satu harinya lima puluh dollar."

"Terima kasih." Azzam menerima uang itu sambil tersenyum.

"Nanti kuitansinya menyusul ya. Nah, sekarang bisa membantu saya?"

"Baiklah, sekarang masalah bantu membantu. Bukan bisnis. Saya ingin murni membantu, jadi saya tidak akan mengharapkan apapun dari Mbak."

"Tapi aku tadi sudah bilang akan memberi hadiah spesial."

"Itu tak penting. Karena waktunya sudah mepet yang paling penting saat ini adalah mencari bumbu untuk ikan bakar itu dan untuk sambalnya. Bumbu yang masih tersisa dari Nasi Timlo tidak mencukupi. Di tempat saya juga sudah tidak ada lombok satu bijipun." Jawab Azzam.

"Kalau begitu sekarang juga kita berangkat mencari apa yang Mas butuhkan. Sebentar aku panggil Pak Ali dulu, ia lebih paham seluk beluk Alexandria." Sahut Eliana bersema ngat. Gadis itu langsung menghubungi Pak Ali dengan telpon genggamnya.

"Kita diminta ke depan. Kebetulan Pak Ali sudah ada di mobil. Memang tadi saya berpesan akan pergi setelah shalat Maghrib. Ayo kita berangkat!" Kata Eliana usai menelpon.

"Sebentar. Apa tidak sebaiknya Mbak shalat Maghrib dulu kalau belum shalat?"

Aduh, shalat lagi, shalat lagi. Shalat itu gampang!"

"Lho jangan meremehkan shalat dong Mbak. Kalau bak belum shalat mending Mbak shalat saja. Biar saya dan Pak Ali saja yang belanja."

"Tidak, saya harus ikut. Tidak tenang rasanya kalau saya tidak ikut. Tentang shalat yang Mas Khairul ributkan itu tenang saja Mas. Aku memang sedang tidak shalat. Kalau shalat malah dosa. Tahu sendiri kan perempuan ada saat-saat dia tidak boleh shalat. Ayo kita berangkat. Kita harus cepat, wak tunya sempit!"

"Kalau begitu ayo." Azzam bangkit.

Mereka berdua berjalan tergesa ke luar hotel. Tepat di depan pintu hotel Pak Ali telah menunggu dengan mobil BMW hitam. Petugas hotel membukakan pintu mobil. Azzam duduk di depan, di samping Pak Ali dan Eliana duduk di bangku belakang. Eliana memberi instruksi kepada Pak Ali agar membawa ke kedai penjual bumbu secepat mungkm. Pak Ali langsung tancap gas melintas di atas El Ghaish Street menuju ke arah pusat perbelan-jaan di kawasan El Manshiya. Azzam menikmati perjalanan itu dengan hati nyaman dan bahagia. Meskipun sebenarnya ia sangat lelah, namun rasa bahagia itu mampu mengatasi rasa lelahnya. Entah kenapa ia merasa malam itu terasa begitu indah. Berjalan di sepanjang jalan utama Kota Alexandria dengan mobil mewah bersama seorang Putri Duta Besar yang pualam. Ia merasa kebahagiaan itu akan sempurna jika mobil BMW itu adalah miliknya, ia sendiri yang mengendarainya dan Eliana duduk di sampingnya sebagai isterinya dengan busana Muslimah yang anggun memesona.

"Hayo, Mas Insinyur melamun ya?" Suara Eliana menga getkan lamunannya.

"E ti. . tidak! Saya hanya takjub dengan suasana malam kota ini. Dan saya bertanya kapan bisa memiliki mobil semewah ini, dan mengendarainya bersama isteri di kota ini?" Jawab Azzam sedikit gugup.

"Wah impian Mas Insinyur tinggi juga ya? Saya yakin jarang ada orang yang bermimpi seperti Mas. Anak muda Indonesia yang punya impian mengendarai mobil BMW saya rasa tidak banyak. Apalagi yang bermimpi mengendarainya bersama isterinya di kota ini. Jangankan bermimpi seperti itu, BWM saja mungkin ada yang belum tahu apa itu dan ada yang belum pernah lihat bentuknya. Lha bagaimana bisa bermimpi? Bahkan, mungkin di antara anak muda Indonesia, terutama di daerah terbelakang masih ada yang beranggapan bahwa BMW itu merk sepeda, sejenis dengan BMX."

Azzam tersenyum mendengar komentar Eliana. Komentar yang baginya terasa memandang rendah anak muda Indonesia. Tapi dulu saat ia masih di Madrasah Aliyah dan menga dakan camping dakwah di ujung tenggara Wonogiri, ia bertemu dengan jenis anak anak remaja dan anak muda yang masih sangat terbelakang cara berpikirnya. Mereka merasa cukup dengan hanya lulus SD saja. Bahkan banyak yang tidak lulus SD. Mereka lebih suka mencari kayu bakar di hutan. Atau menggembalakan kambing di hutan. Mimpi mereka adalah bagaimana dapat kayu bakar yang banyak. Atau kambing mereka cepat beranak pinak. Itulah mimpi anak-anak muda yang ada dipedalaman daratan pulau Jawa. Ia bayangkan bagaimana dengan yang berada di tengah hutan Kalimantan dan Papua? Mereka yang berpikiran memakai baju yang layak saja belum. Yang untuk menjamah mereka saja harus menem puh perjalanan yang sangat sulit. Ia langsung membandingkan mereka dengan anak muda seperti Eliana yang sudah selesai kuliah di Prancis di usia yang masih belia. Sudah pernah merasakan tidur di hotel paling mewah di Eropa. Sudah pernah debat dengan Sekjen Liga Arab dengan bahasa Inggris yang fasih. Alangkah jauh bedanya.

"Ya, yang kau katakan mungkin ada benarnya. Memang tidak banyak dari mereka yang memiliki impian tinggi." Komentarnya ringan. Dalam hati Azzam menambah, "Apalagi yang bermimpi bisa menyunting Putri Dubes yang sekuler seperti dirimu dan bisa menjadikannya Muslimah yang baik pastilah sangat sangat sedikit jumlahnya."

"Karena pemudanya tidak banyak yang punya impian tinggi dan besar itulah, maka Indonesia tidak maju-maju. Kalau yang kau impikan selama ini apa Mas? Bukan yang tadi lho. Yang selama ini kau impikan." Tanya Eliana.

"Kira-kira apa, coba, kau bisa tebak tidak?" Sahut Azzam. "Mm... mungkin mendirikan pesantren."

Salah.”

Terus apa?" Jadi orang paling kaya di pulau Jawa he he he..."

"Wow...gila! It's great dream, man! Tak kuduga Mas Khairul punya impian segede itu. Impian yang aku sendiri pun tidak menjangkaunya. Gila! Boleh... Boleh! Kali ini aku boleh salut pada Mas Khairul."

BMW itu terus melaju dengan tenang dan elegan. Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti di depan kedai penjual bumbu-bumbu di El Hurriya Street. Dengan cepat dan cermat Azzam membeli bumbu. Azzam tidak lupa mengajak ke kedai penjual sayur-mayur.

"Untung saya ingat, ikan bakar itu harus ada lalapannya." Kata Azzam pada Eliana. Ia bergegas masuk ke kedai penjual sayur mayur dan membeli ketimun, kubis, dan tomat untuk dibuat lalapan. Setelah itu mereka meluncur kembali ke hotel dengan perasaan lega. Dan yang paling lega tentu saja Eliana. Jika bahan baku telah didapat, bumbu telah didapat, dan koki yang akan menggarap bisa diandalkan, apakah tidak layak baginya untuk merasa lega.

Dalam perialanan ke hotel, Pak Ali memilih menelusuri El Hurriya Street. Terus ke arah timur laut. Mereka me-lewati Konsulat Amerika Serikat. Terus melaju tenang. Sampai di kawasan Ibrahimiya sebelum Sporting Club belok kiri. Lalu belok kanan melaju di El Amir Ibrahim Street. Dari dalam mobil, Azzam melihat trem listrik yang penuh penumpang. Kereta itu melaju ke arah El Manshiya. Gadis-gadis Mesir tampak berdiri di dalam trem. Tangan kanan mereka menggenggam erat pegangan seperti gelang, sedangkan tangan kiri mereka memegang buku.

Sepertinya gadis-gadis itu baru pulang dari kampus ya." Eliana kembali membuka suara. Eliana seperti tahu apa yang diperhatikan Azzam.

"Iya." Pelan Azzam.

Gadis Mesir itu cantik -cantik ya. Langsing langsing." "Iya."

"Tapi saya lihat kalau sudah jadi ibu -ibu kok gemuk gemuk sekali ya?"

Iya. Setahu saya memang adat di Mesir itu seorang suami malu kalau isterinya tidak gemuk. Malu dianggap tidak bisa memberi makan dan tidak bisa mensejah-terakan isterinya."

"Aneh. Apa sejahtera itu berarti harus gemuk?"

"Tidak juga. Ada juga kan orang merana, orang stres malah gemuk. Tapi masyarakat Mesir modern agaknya sudah mulai meninggalkan adat itu. Kita juga mudah menemui ibu ibu Mesir yang tetap langsing."

Ngomong-ngomong apa Mas Insinyur punya impian menikah dengan gadis Mesir?"

"Menikah dengan gadis Mesir?" Spontan Azzam mengulang pertanyaan Eliana.

"Iya. Pernah terbersit dalam hati?” "Pernah."

"Punya kenalan gadis Mesir?" “Punya."

Cantik?” “Pasti.”

"Wow. Tak kusangka. Mas Insinyur ternyata benar-benar pemuda berselera tinggi. Eh Mas, jujur ya, kalau gadis seperti diriku ini menurut Mas cantik tidak?"

Muka Azzam memerah mendengar pertanyaan itu. Seandainya ada cahaya yang terang pasti perubahan wajahnya akan tampak. Namun keadaan malam itu menutupi perubahan wa jahnya. Ia sama sekali tidak menduga akan mendapat perta nyaan seperti itu. Tiba tiba rasa tinggi hatinya muncul. Ia tidak mau mengakui begitu saja kecantikan Putri Duta Besar itu. Ia tidak mau menyanjungnya sebagaimana orang-orang banyak me-nyanjungnya.

"Kok diam Mas? Bagaimana Mas, orang seperti aku ini menurut Mas cantik tidak?" Eliana kembali mengulang perta nyaannya.

"Bilang aja cantik! Gitu aja kok mikir!" Sahut Pak, Ali sambil terus berkonsentrasi menjalankan mobil ke arah El Ghaish Street. Sebentar lagi mereka sampai.

Jangan dipengaruhi Pak. Biar dia jujur menilainya. Cantik tidak?" Tanya Eliana ketiga kalinya.

Tidak! " Jawab Azzam sambil tersenyum. Azzam lalu memandang bulan purnama yang bersinar terang di atas laut. Purnama itu seolah tersenyum dan bertasbih bersama bin tang-bintang dan angin malam. Azzam tak mau tahu apa pera saan Eliana saat itu, yang penting ia merasa menang.

"Ah. Kau tidak jujur itu Mas! Ayo jujur sajalah!" Protes Pak Ali dengan suara agak keras.

Azzam hanya tersenyum. Dan diam. Cukup dengan diam ia sudah menang. Dan Eliana pun diam. Ia belum menemukan kata -kata yang tepat untuk bicara. Maka ia memilih diam. Sesaat lamanya Azzam dan Eliana saling diam. Mobil terus bergerak ke depan. Tak terasa mereka sudah sampai di halaman Hotel El Haram.

2 TEKAD BERAJUT DOA

Acara makan malam itu berlangsung di sebuah taman yang terletak di garis Pantai El Muntazah. Sebuah pantai yang terkenal keindahannya di Alexandria. Azzam sama sekali tidak bisa menikmati acara itu, sebab ia sibuk mempersiapkan ikan bakar permintaan khusus Bapak Duta Besar, ayah Eliana. Azzam yang ingin istirahat di malam terakhir merasa tidak bisa istirahat. Ia yang sedikit ingin merasakan nuansa romantis di El Muntazah yang sangat terkenal itu sama sekali tidak bisa merasakannya.

Azzam membakar semua ikan yang dibeli Pak Ali. Ia meracik bumbu sedetil mungkin. Ia minta Pak Ali membantunya mengipasi arang agar terjaga baranya, sementara ia membuat sambalnya. Akhirya ia bisa menghidangkan ikan bakar kei nginan itu ke hadapan dua orang Duta Besar, yaitu ayah Eliana, Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan kawannya Duta Besar Indonesia untuk Turki. Dua Duta Besar itu duduk di tempat terpisah dari staf KBRI yang lain. Mereka memang ingin bernostalgia berdua saja. Di hadapan mereka ada satu nampan berisi nasi panas yang masih mengepulkan asap. Nampan berisi ikan bakar. Dua piring kecil berisi sambal. Dua piring agak besar berisi lalapan. Lalu dua mangkok berisi air untuk cuci tangan. Dan dua piring besar yang masih kosong. Azzam mempersilakan keduanya untuk menikmati hidangan itu.

"Terima kasih Mas ya." Kata Pak Alam, ayah Eliana pada Azzam. Azzam tersenyum dan mengangguk dengan ramah sambil sekali lagi mempersilakan untuk menyantap. Ia lalu minta diri.

"Hidangan ikan bakar ini untuk mengingatkan masa masa kita belajar di Jogja dulu. Meskipun kita ada di Alexan dria, tapi ini saya siapkan ikan bakar seperti yang kita rasakan di Parangtritis dulu." Kata Pak Alam.

"Wah sungguh tidak rugi aku berkunjung ke Mesir menjenguk teman lama. Sungguh, aku merasa sangat terhormat menerima surprise ini." Sahut Pak Juneidi dengan senyum mengembang.

"Ayo langsung saja Pak Jun. Mencium baunya sudah tidak sabar rasanya perut ini. Ayo kita pulu'an pakai tangan saja rasanya lebih nikmat." Kata Pak Alam sambil mengambil satu piring yang kosong dan mengisinya dengan nasi. Lalu ia mencuci tangan kanannya ke dalam mangkok berisi air dan jeruk nipis.

Ya benar Pak Alam. Pulu'an dengan tangan memang lebih nikmat." Tukas Pak Juneidi seraya melakukan hal yang sama.

Dua Duta Besar itu langsung asyik bernostalgia sambil menikmati ikan bakar buatan Azzam. Dari jauh Azzam melihat dengan mata puas. Ia lalu duduk melihat sekeliling. Di sisi yang lain tak jauh dari dua Duta Besar itu staf KBRI sedang berpesta bersama beberapa orang mahasiswa dan rombongan Penari Saman yang didatangkan dari Aceh. Ia melihat Eliana ada di tengah tengah mereka. Eliana duduk berbincangbincang dengan seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang berbincang dengan Eliana adalah Furqan. Teman satu pesa wat saat datang ke Mesir dulu. Ada sedikit bara memercik dalam dadanya, namun ia redam segera. Ia merasa tidak pada tempatnya ia merasa cemburu. Eliana itu siapa? Bukan siapa siapanya.

Melihat Furqan yang selalu dalam posisi begitu terhormat, Azzam tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa ada rasa iri. Iri ingin seperti dia. Rasa itu begitu halus masuk ke dalam hatinya. Dulu ia dan Furqan satu pesawat. Lalu selama satu tahun satu rumah. Tahun pertama di Mesir ia naik tingkat dengan nilai lebih baik dari anak konglomerat Jakarta itu. Bahkan Furqan sering bertanya padanya tentang kosa kata bahasa Arab yang musykil saat membaca diktat. Tapi kini, teman lamanya sudah hampir selesai S.2 -nya di Cairo University. Dan ia sendiri S.1 saja masih juga belum lulus lulus, apalagi S.2. Furqan lebih dikenal sebagai intelektual muda yang sering diminta menjadi nara sumber di pelbagai kelompok kajian, sedangkan dirinya lebih dikenal sebagai penjual tempe, pembuat bakso dan tukang masak serba bisa, namun tidak juga lulus ujian.

Azzam menghela nafas panjang. Ia lalu berdiri mencaricari Pak Ali. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun tak juga ia temukan Pak Ali. Ia sendirian. Hendak bergabung dengan staf KBRI itu rasanya canggung. Mereka sudah memulai acara dua puluh menit yang lalu. Ia memutuskan untuk menikmati kesendi riannya itu. Untung ia tadi sempat mengambil sepiring nasi dan satu ikan untuk dicicipi. Dan sambil duduk Azzam mulai menyantap ikan bakar itu. Perutnya sudah sangat lapar. Ia makan dengan lahap sendirian, sambil menatap bulan dan bintang bintang. Tiba-tiba ia teringat ibu dan ketiga adiknya di Indonesia.

"Mereka pasti sedang tidur nyenyak di sana. Ibu mungkin sedang berdoa dalam shalat malamnya." Lirihnya pada diri sendiri sambil membayangkan wajah ibunya dalam balutan mukena putih dengan mata berkaca -kaca. Ada keharuan yang tiba-tiba menyusup begitu saja ke dalarn dadanya.

Kalaulah ia harus jujur, maka impiannya yang paling tulus adalah segera pulang ke Tanah Air bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Tak ada impian yang lebih kuat dalam jiwanya melebihi itu. Namun akal sehatnya selalu menahan agar impiannya itu tidak sampai meledak dan melemahkannya.

Adalah wajar bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu keluarganya dan mengharap bertemu keluarga nya. Namun jika dengan sedikit kesabaran pertemuan itu akan menjadi lebih bermakna kenapa tidak sedikit bersabar. Ia bisa saja mengusahakan pulang. Tapi kuliahnya belum tuntas dan adik -adiknya masih memerlukan dirinya untuk bekerja keras. Ia tidak ingin menyerah pada kerinduan yang menjadi penghalang kesuksesan. Ia ingin adik -adiknya sukses, dirinya suk ses. Semua sukses. Gambaran masa depan jelas. Baru ia akan pulang.

"Mas Khairul, pulang yuk!"

Suara itu mengagetkannya. Ia menengok ke asal suara. Pak Ali telah berdiri di samping kanannya.

"Dari mana saja Pak Ali? Saya cari-cari dari tadi."Sapanya

Aduh Mas, perutku sakit. Aku habis dari toilet. Yuk kita pulang ke hotel yuk. Kayaknya aku harus segera istirahat nih."

"Lha Pak Ali tidak menunggu Pak Dubes. Nanti kalau Pak Dubes mencari bagaimana? Terus kalau saya pulang yang membereskan barang-barang siapa?"

Tenang. Aku sudah tidak ada tugas malam ini. Pak Dubes nanti biar disopiri Pak Amrun. Terus barang barang biar diurus sama Mbak Eliana. Aku sudah bicara dengan Mbak Eliana. Katanya kita pulang tak apa-apa. Apalagi sebagian mereka mau begadang sampai pagi. Termasuk Pak Dubes dan kawannya dari Turki.”

Baik kala u begitu. Saya juga sudah letih. Terus kita pulang pakai apa Pak Ali?"

"Gampang. Yang penting sama Pak Ali beres deh. Kita pulang pakai taksi biar aku yang bayar."

"Ya sudah kalau begitu. Ayo."

Dua orang itu bergegas ke luar ke jalan lalu meluncur ke hotel dengan taksi. Dalam perjalanan ke hotel Azzam lebih banyak diam. Ia hanya bicara jika Pak Ali bertanya. Azzam masih terbayang-bayang oleh wajah ibu dan adik -adiknya.

"Kalau boleh tahu berapa umurmu Mas Khairul?" "Dua puluh delapan Pak."

"Kalau aku perhatikan, gurat wajahmu lebih tua sedikit dari umurmu. Kayaknya kau memikul sebuah beban yang lumayan berat. Aku perhatikan kau lebih banyak bekerja daripada belajar di Mesir ini. Boleh aku tahu tentang hal ini?"

"Ah Pak Ali terlalu perhatian pada saya. Saya memang harus bekerja keras Pak. Bagi saya ini bukan beban. Saya tidak merasakannya sebagai beban. Meskipun orang lain mungkin melihatnya sebagai beban. Saya memang harus bekerja untuk menghidupi adik adik saya di Indonesia. Ayah saya wafat saat saya baru satu tahun kuliah di Mesir. Saya punya tiga adik. Semuanya perempuan. Saya tidak ingin pulang dan putus kuliah di tengah jalan. Maka satu -satunya jalan adalah saya harus bekerja keras di sini. Jadi itulah kenapa saya sampai jualan tempe, jualan bakso, dan membuka jasa katering."

Pak Ali mengangguk -angguk sambil membetulkan letak kaca matanya mendengar penuturan Azzam. Ada rasa kagum yang hadir begitu saja dalam hatinya. Anak muda yang kelihatannya tidak begitu berprestasi itu sesungguhnya memiliki prestasi yang jarang dimiliki anak muda seusianya.

"Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik -adikmu di Indonesia. Aku sangat salut dan hormat pada mu Mas. Sungguh. Ketika banyak mahasiswa yang sangat manja dan menggantungkan kiriman orangtua, kau justru sebaliknya. Teruslah bekerja keras Mas. Aku yakin engkau kelak akan meraih kejayaan dan kegemilangan. Teruslah bekerja keras Mas, setahu saya yang membedakan orang yang berhasil dengan yang tidak berhasil adalah kerja keras. Dan nanti kalau kau sudah sukses jagalah kesuksesan itu. Setahu saya, dari membaca biografi orang-orang sukses, ternyata hal paling berat tentang sukses adalah menjaga diri yang telah sukses agar tetap sukses."

"Terima kasih Pak Ali. Tapi saya minta Pak Ali tidak menceritakan apa yang barusan saya ceritakan pada Pak Ali kepada orang lain. Saya tidak mau itu jadi konsumsi banyak orang. Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa Al Azhar yang tidak lulus-lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso dan katering. Itu bagi saya sudah cukup membuat nyaman. Janji Pak ya?"

"Ya, saya janji."

Tak terasa taksi sudah sampai di depan hotel. Azzam turun. Pak Ali membayar ongkos taksi lalu menyusul turun.

Perutnya masih sakit Pak?"

"Ya. Masih terasa. Aku rasa aku harus segera ke toilet. O ya Mas Khairul, kau langsung ingin istirahat?"

"Iya Pak, saya merasa letih banget."

Baiklah. O ya, bagaimana kalau besok habis shalat subuh kita ngobrol-ngobrol sambil jalan-jalan di sepanjang pantai. Semoga saja sakit perutku sudah sembuh."

"Wah dengan senang hati Pak."

"Kalau begitu nanti kalau kau mau shalat subuh aku dibel ya. Kita subuhan di masjid bersama. Dari masjid kita langsung jalan jalan. Aku akan memberimu cerita yang indah. Kau pasti senang mendengarnya."

"Baik Pak. Man Pak, assalamu 'alaikum." Kata Azzam. "Wa'alaikumussalam. Sampai ketemu besok." Jawab Azzam bergegas menuju lift, sementara Pak Ali menuju

toilet. Hotel itu masih ramai. Beberapa orang masih asyik ngobrol di lobby hotel. Dua orang lelaki kulit putih tampak sedang serius berbicara dengan orang Arab berjubah putih. Dari caranya memakai kafayeh tampak -nya ia orang teluk. Lourantos Restaurant yang terletak tak jauh dari lobby juga ramai dengan pengunjung.

Sampai di kamar Azzam langsung merebahkan badannya. Ia tinggal menunggu mata terpejam. Telpon di kamarnya berdering. Ia sangat tidak menginginkan telpon itu. Ia paksa kan untuk bangkit dan mengangkat-nya. Dari Eliana.

Hei Mas Insinyur, kok sudah pulang sih?" Suara dari gagang telpon.

"Iya, diajak Pak Ali yang sakit perut. Saya juga sudah letih.”

Seharusnya kalau mau pulang bilang-bilang dong. Terima kasih ya, ikan bakarnya mantap. Pak Juneidi puas banget. O ya sebetulnya aku mau kasih hadiah spesialnya lho. Tapi Mas Insinyur keburu pulang sih?"

"Hadiahnya apa ?"

"Mau tahu?"

Iya."

"Ciuman spesial dariku." “Apa? Ciuman spesial?" "Yes."

"Ciuman spesialnya Mbak Eliana itu ciuman yang bagaimana?"

"French kiss, ciuman khas Prancis."

"Mbak mau menghadiahi aku ciuman khas Prancis? Ah yang benar saja?"

"Benar, sungguh! Tapi Mas Khairul keburu pulang sih. Jadi sorry dech ya."

"Ah Mbak jangan menggoda orang miskin dong."

"Saya tidak menggoda, serius. Saya sungguh sungguh mau memberi Mas Khairul ciuman itu tadi, sayang Mas keburu pulang.”

Alhamdulillah. Untung saya keburu pulang." "Lho kok malah merasa untung."

Iya soalnya jika dapat ciuman khas Prancis dari Mbak, bagi saya bukanlah jadi hadiah, tapi jadi musibah!’

"Jadi musibah?”

Iya.”

"Dapat French kiss dariku bagimu jadi musibah!?" "Iya."

"Serius!? Nggak bercanda kan!?" "Serius! Sangat serius!"

"Bisa dijelaskan kenapa jadi musibah?"

"Penjelasannya panjang, besok saja! Yang jelas perlu Mbak ingat baik -baik saya bukan orang bule! Sudah ya, saya harus istirahat. Maaf!"

Azzam memutus pembicaraan dan meletakkan gagang telponnya sambil mendesis kesal,

"Dasar perempuan didikan Prancis tidak tahu adab kesopanan. Sudah tahu aku ini mahasiswa Al Azhar mau disama kan sama bule saja! Sinting kali!"

Telpon di kamarnya berdering lagi. Ia biarkan saja. Tidak ia sentuh sama sekali. Ia yakin itu telpon dari Eliana yang mungkin sedang emosi atau penasaran. Telpon itu berdering dering sampai mati. Azzam mengambil air wudhu . Membaca doa. Mengecilkan AC . Dan siap untuk tidur. Telpon di ka marnya kembali berdering. Ia sedang membaca Ayat Kursi. Sama sekali ia tidak bergeming dari tempat tidumya. Telpon itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri. Ia tak perlu mengangkatnya, toh jika umur masih panjang besok bisa bertemu dan berbicara panjang lebar kenapa hadiah ciuman itu baginya adalah musibah.

Sementara di El Muntazah, Eliana tampak gusar dan geram. Berani-beraninya pemuda itu memutus pembicaraan begitu saja. Dan berani-beraninya ia memandang sebelah mata terhadap dirinya. Pikirnya. Baru kali ini ia tidak dianggap bahkan diremehkan oleh seorang pemuda. Yang membuatnya geram kali ini yang meremehkannya justru orang yang sama sekali tidak diperhitungkannya.

"Dasar pemuda kampungan kolot! Pemuda konservatif! Pemuda bahlul bin tolol! Awas nanti ya!" Geramnya.

Orang-orang yang memperhatikan tingkah Eliana itu jadi bertanya -tanya. Ada apa dengan Putri Pak Duta Besar itu? Siapa pemuda yang dikatakannya kolot itu? Siapa pemuda yang diumpatnya itu?

Selesai membaca Ayat Kursi Azzam tidak bisa langsung tidur. Ia merasa ada yang salah hari ini. Yang salah itu adalah rasa tertariknya pada anak Pak Dubes dan harapannya yang tidak -tidak padanya. Setelah sembilan tahun, baru kali ini hatinya tertarik pada seorang gadis.

Dulu waktu di pesantren, waktu di Madrasah Aliyah ia pernah merasa suka pada seorang santriwati yang di matanya sangat memesona. Namanya Salwa. Selain Wajahnya yang menurutnya bagai bidadari suaranya sangat merdu. Santriwati dari Pati itu menjuarai MTQ tingkat Jawa Tengah. Namun ia hanya bisa memendam rasa sukanya itu dalam hati. Sebab ia tahu, Salwa sudah dipinang oleh putra sulung Pengasuh Pesantren, Gus Mifdhal. Setelah itu ia tidak mau membuka hatinya lagi.

Yang ia heran, entah kenapa ketika mendengar prestasiprestasi Putri Pak Dubes itu hatinya merasakan sesuatu yang lain. Ia mengagumi gadis itu. Dan ketika melihat wajahnya ia semakin kagum. Lalu ketika ia baru sedikit dekat saja sudah merasakan apa yang dulu ia rasakan terhadap Salwa. Ia harus mengakui ia jatuh cinta pada Eliana dan berharap yang tidak tidak. Ia sendiri heran, kenapa?

Padahal ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gadis cantik. Ia sering membantu bapak -bapak pejabat KBRI dan sering bertemu dengan anak gadis mereka yang sebenarnya tidak kalah jelitanya. Tapi ia merasa biasa biasa saja. Ia bahkan pernah umrah dan membimbing jamaah dari Jakarta. Di antara jamaah itu ada seorang foto model yang masih kuliah di Jakarta. Namanya Vera. Foto model cantik itu kelihatannya tertarik padanya. Sebab setelah Vera kembali ke Jakarta sering menelpon dirinya dan mengirimnya paket. Namun ia sama sekali tidak tertarik padanya. Kini Vera sudah jadi bintang sinetron. Dan ia juga tidak minta sedikit pun untuk sekadar menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan foto model itu karena gaya hidupnya yang ia anggap tidak sejalan dengan jiwanya. Dan cara berpakaiannya yang menurutnya kurang santun meskipun sudah berulang kali umrah dan naik haji. Dalam hati ia berkata dengan tegas,

"Cantik iya. Tapi kalau tidak bisa menjaga aurat, tidak memiliki rasa malu, tidak memakai jilbab, tidak mencintai cara hidup yang agamis, berarti bukan gadis yang aku idamkan!"

Standar dia untuk calon isteri minimal adalah Salwa. Dan standar itu tidak pernah ia turunkan. Tapi entah kenapa saat bertemu Eliana yang cara berpakaian dan cara hidupnya, menurutnya, tidak berbeda dengan Vera hatinya bisa luluh. Kenapa ia menurunkan standar yang telah bertahun -tahun ia jaga. Bahwa calon isterinya, minimal adalah perempuan yang berjilbab rapat, bisa membaca Al-Quran dan pernah mengecap kehidupan pesantren.

Dan betapa menyesalnya dirinya begitu menurunkan standar ternyata yang ia dapatkan adalah kehinaan. Akal sehatnya menggiringnya untuk kecewa pada Eliana. Kecewa karena ia merasa sudah bisa meraba cara hidup Eliana. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Putri Pak Dubes itu saat kuliah di Prancis. Sudah berapa lelaki bule dan tidak bule yang berciuman bibir dengannya. Dan ia ditawari untuk jadi lelaki ke sekian yang berciuman dengannya. Ini jelas berten-tangan dengan apa yang ia jaga selama ini. Yaitu kesucian. Kesucian jasad, kesucian jiwa, kesucian hati, kesucian niat, kesucian pikiran, kesucian hidup dan kesucian mati.

Entah kenapa tiba -tiba ia merasa berdosa. Ia merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terperdaya oleh tampilan luar yang menipu. Ia jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya. Ia heran sendiri kenapa jati dirinya seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Eliana. Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beris tighfar dalam hatinya. Berkali-kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya.

Azzam meratapi kekhilafannya dan memarahi dirinya sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Ia juga bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah hebatnya dengan Eliana, tapi berjilbab rapat, salehah, bisa berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau terpaksa gadis itu harus orang Mesir tak apa. Yang jelas rasa terhinanya harus ia sirnakan. Ia harus menemukan kembali kehormatannya sebagai seorang Azzam yang memiliki harga diri. Meskipun masya rakat Indonesia di Mesir mengenalnya hanya sebagai tukang masak atau penjual tempe, tapi harga diri dan kesucian diri tidak boleh diremehkan oleh siapapun juga. Ia yakin akan mendapatkan isteri yang lebih jelita dari Eliana, dan lebih baik darinya. Ia yakin. Itu tekadnya. Ia ulang-ulang tekad itu dalam hatinya. Ia rajut dengan doa. Ia bawa tekad itu ke dalam tidurnya. Ke dalam mimpinya. Dan ke dalam alam bawah sadarnya.

REVAN NINTANG BLOG. Diberdayakan oleh Blogger.